Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Binatang Ini Punya "Teknologi" Fotosintesis Seperti Tanaman

binatang berfotosintesis, siput fotosintesis, binatang seperti tanaman bisa berfotosintesis, teknologi fotosintesis


Berbagai penelitian dilakukan untuk menggantikan bahan bakar minyak bumi yang semakin menipis. Salah satunya dengan mengembangkan tenaga surya. Tenaga surya digadang-gadang sebagai sumber yang tak akan habis selama matahari tetap ada.

Saat ini, ada banyak perusahaan yang telah melakukan terobosan. Salah satu perusahaan tersebut adalah Tesla. Perusaan milik Elon Musk ini menjadi salah satu perusahaan yang dianggap memiliki kesadaraan ramah lingkungan, dengan membuat kendaraan listrik serta mengembangkan teknologi baterai yang bisa menyimpan  setrum dari pancaran tenaga surya.

Ngomong-ngomong soal tenaga surya, ada juga hewan yang “bertenaga surya.” Biasanya, makhluk yang menggunakan sinar surya untuk hidup adalah tumbuhan. Tapi makhluk satu ini adalah hewan! Dan uniknya, dia masuk dalam kategori moluska, atau siput.

Habitat

Siput “bertenaga surya” ini resmi bernama latin Elysia chlorotica. Siput ini juga dipanggil Emerald green sea slug atau Zamrud hijau siput laut. Dalam rentang hidup 9-10 bulan, siput bertenaga surya ini tumbuh antara 1 hingga 6 sentimeter.

Elysia chlorotica tidak seperti siput pada umumnya. Dia tidak memiliki cangkang sebagai pelindung tetapi menggunakan warna hijaunya untuk menyamarkan diri dan membuatnya bisa terhindar dari predator.

Elysia chlorotica masuk dalam kelompok siput yang hidup di laut dangkal. Ketika ditemukan, habitatnya berada di daerah rawa-rawa dangkal air asin, di daerah pantai Atlantik Amerika Utara. Wilayah di mana makhluk unik ini hidup termasuk negara bagian Massachusetts, Connecticut, New York, New Jersey, Maryland, Rhode Island, Florida, (Florida timur dan Florida barat) dan Texas. Mereka juga dapat ditemukan di utara sampai Nova Scotia , Kanada.

Siput ini membuat para ilmuwan kebingungan, tapi juga sekaligus kagum karena Elysia chlorotica memiliki kemampuan berfotosintesis untuk menghasilkan makanan bagi dirinya sendiri. Makhluk satu ini dengan sendirinya bakal menghancurkan prinsip biologi yang selama ini kita pahami.

Menghancurkan prinsip-prinsip biologi

Pemuan siput bernama Elysia chlorotica telah menghancurkan prinsip-prinsip biologi yang sudah dibangun dan ditetapkan selama puluhan tahun oleh para ilmuwan. Dalam pelajaran biologi di sekolah, kita diajarkan bahwa makhluk yang memiliki kemampuan berfotosintesis adalah tumbuhan atau flora. Namun kini, pengetahuan itu harus direvisi.

Elysia chlorotica muncul dan “menyerang” prinsip tersebut. Hal itu dikarenakan, siput yang berwarna hijau terang ini, setengah tubuhnya binatang dan setengahnya lagi tumbuhan. Dengan struktur seperti itu, ia melakukan fotosintesis dan menghasilkan makanan seperti layaknya tumbuhan padahal ia masuk dalam kelompok binatang.

Makhluk satu ini membuat takjub karena di dalam tubuhnya ada semacam "teknologi" alami, selayaknya sebuah "pabrik" yang berfungsi untuk memproduksi makanan dari dalam. Jadi meskipun dia adalah binatang, karena memiliki kemampuan memproduksi makanan dari dalam tubuhnya, dia mampu bertahan selama berbulan-bulan tanpa makanan.

Cara memproduksi juga harus dengan bantuan sinar matahari, seperti layaknya tanaman yang membutuhkan sinar matahari untuk berfotosintesis.

Prinsip biologi yang dihancurkan tentu saja, bahwa saat ini yang berfotosintesis bukan hanya tumbuhan tetapi juga binatang. Binatang yang bernama Elysia chlorotica.

Ditemukan sebagai binatang pertama yang berfotosintesis

Belum pernah ada temuan sebelumnya yang bisa membuktikan bahwa binatang melakukan fotosintesis. Binatang itu makan, entah itu makan tanaman atau makan binatang lain untuk bertahan hidup. Binatang bergerak, melompat, berlari, memangsa, untuk bisa bertahan hidup.

Elysia chlorotica adalah binatang pertama yang akhirnya menghancurkan prinsip ilmu pengetahuan sebelumnya. Tubuhnya bergerak layaknya binatang siput lain, tapi ia mampu hidup hampir setahun tanpa makanan. Ia menghasilkan makanan sendiri dengan berfotosintesis layaknya tanaman.

Melansir dari National Geographic, siput tersebut memakan alga dan mencuri “mesin super mini” di dalam tubuh alga yang dinamakan kloroplas. Lalu, siput tersebut memasang “mesin super mini” ke kulitnya sehingga dia sendiri bisa menggunakan mesin tersebut untuk memanen cahaya surya dan melakukan fotosintesis untuk memenuhi kebutuhannya.

Elysia chlorotica masuk dalam keluarga Elysiidae yang digambarkan oleh Forbes & Hanley pada tahun 1851. Secara taksonomi, dia juga disebut dalam keluarga Plakobranchidae. Biasanya kelompok keluarga binatang ini disebut sebagai moluska gastropoda.

Di dalam keluarga Elysiidae ini ada lebih dari 25 spesies. Namun dari semua yang pernah ditemukan, belum ada yang seperti Elysia chlorotica, siput yang berfotosintesis menggunakan tenaga surya untuk memenuhi kebutuhan makanannya sendiri.

Masih menjadi misteri alam yang belum terbongkar

Penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan cerdas-cerdas itu, masih belum bisa mengungkap bagaimana siput tersebut memiliki mekanisme seperti tumbuhan. Misteri tersebut belum terbongkar hingga saat ini.

Logikanya begini: siput atau binatang lain makan tumbuhan, lalu mencernanya untuk mendapatkan energi dan sisa residu yang dikeluarkan sebagai kotoran.

Siput ini makan alga, tapi mengapa alga yang dimakan siput ini tidak dicerna seperti layaknya binatang lain? Atau di dalam tubuh siput terdapat semacam biokimia yang berinteraksi dengan inti alga, lalu mengajaknya hidup bersama di dalam tubuh siput sehingga membuat siput bisa memanen cahaya surya untuk bertahan hidup.

Melansir dari Science Daily, para ilmuwan masih takjub bagaimana siput menjaga “mesin super mini” dari alga yang dimakan, dan menyimpan inti alga bernama plastida, lalu mempertahankannya di dalam tubuhnya, dan menggunakan “teknologi” tumbuhan itu untuk berfotosintesis dan menghasilkan klorofil.

Baca juga: Teknologi Drone Pertanian Pembunuh Serangga

Mungkinkah manusia berfotosintesis?

Dengan semakin berkembangnya teknologi dan sains, penemuan Elysia chlorotica membuat ilmuwan tergelitik untuk membuat sebuah pertanyaan gila: menggabungkan DNA binatang yang memiliki kemampuan fotosintesis dengan DNA manusia. Dengan begitu, manusia bisa berfotosintesis dan menjadi tidak terlalu rakus dengan memakan segala.

Mary Rumpho dari Universitas Maine, yang juga ilmuwan ahli dalam bidang Elysia chlorotica menjelaskan, “manusia tidak bisa menjadi makhluk fotosintesis. Saluran pencernaan kita mengunyah habis semua yang ada, termasuk kloroplas dan DNA tumbuhan yang kita makan,” katanya seperti dilansir dari New Scientist.

Namun kita mungkin saja bisa membayangkan, bahwa seandainya kemajuan ilmu pengetahuan, sains dan teknologi benar-benar mampu mentrasfer DNA Elysia chlorotica ke dalam DNA manusia, bisa saja bumi tidak akan menjadi semakin rusak. Itu karena manusia bisa memakan hijau-hijauan saja, lalu menyimpannya dalam perut dan "mesin super mini" yang didapat dari kloroplas tanaman melakukan fotositesis untuk menghasilkan makanannya sendiri.

Cuma masalahnya, jika hal itu memang menjadi mungkin, maka pekerjaan petani akan menjadi terancam. Padahal tanpa kemampuan seperti yang dibayangkan tadi, saat ini saja pekerjaan sebagai petani di Indonesia sudah semakin tidak diminati dan seakan-akan menanti untuk dimasukkan ke dalam museum.

Baca juga: Teknologi Cahaya Alami dari Jamur

Posting Komentar untuk "Binatang Ini Punya "Teknologi" Fotosintesis Seperti Tanaman"