Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Intip Drone Turki, Salah Satu Teknologi Senjata Langit Terbaik di Dunia

drone, turki, teknologi, terbaik, senjata, langit, tb2, karayel, angka-s
Drone Bayraktar TB2 buatan Turki (Wikimedia.org)

Turki adalah salah satu negara produsen dan pengguna drone terbaik di dunia. Pesawat nirawak atau drone milik mereka telah memiliki rekam jejak sebagai teknologi senjata langit yang ampuh dalam perang modern. Saat ini, teknologi drone yang diproduksi oleh Turki banyak diwaspadai oleh negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Inggris. Drone buatan Turki adalah ancaman yang nyata.

Kebangkitan Turki dalam teknologi drone dapat dilihat dalam satu dekade terakhir. Mereka telah mampu mengembangkan teknologi drone sebaik seperti negara yang lebih dahulu membuatnya, yakni Amerika Serikat dan Israel. Salah satu motif utama Turki ketika mengembangkan teknologi drone adalah untuk memburu lokasi persembunyian kelompok pemberontak Kurdi, PKK.

Berikut ini, Teknolemper.com akan memberikan beberapa pencapaian unggul teknologi drone Turki yang telah dianggap sebagai salah satu "pengubah permainan" senjata langit modern. Selain itu, akan pula dinukil beberapa rekam jejak teknologi drone yang mematikan tersebut, yang juga diakui kemampuannya oleh banyak negara.

Bermula dari kecewa

drone, turki, bayraktar
(Wikimedia.org)

Turki membeli drone tak bersenjata pertama kali pada tahun 1996 dari Amerika Serikat. Mereka membeli teknologi pesawat nirawak itu untuk mengintai tempat persembunyian kelompok pemberontak PKK. Namun selama menggunakan teknologi drone tersebut, ketika lokasi berhasil dikirim oleh drone dan jet tempur F-16 dikirim untuk memburu, pemberontak sudah kabur dan menghilang.

Pada tahun 2006, Turki memesan drone dari Israel. Mereka memesan 10 buah. Turki harus menunggu drone tersebut selama lima tahun lamanya. Selain itu pengoperasian teknologi canggih harus dilakukan oleh personel militer Israel. Pejabat Turki curiga bahwa gambar dari drone yang didapatkan, diselundupkan kepada dinas intelijen Israel. Karena itu, Turki berhenti kerja sama. Di sisi lain, Turki dan Israel semakin bentrok terkait Musim Semi Arab yang saat itu sedang menyeruak.

Turki kembali berniat untuk membeli drone dari Amerika Serikat. Namun karena hubungan Turki dengan Israel semakin tidak baik, sedangkan Israel sendiri adalah kawan karib AS, maka pada tahun 2010 dan 2012, Kongres AS menolak menyetujui pembelian teknologi canggih tersebut.

Selanjutnya? Tentu saja Turki kecewa. Belajar dari pengalaman tersebut, akhirnya Turki membuat teknologi drone sendiri dan mengembangkannya. Kurang dari satu dekade, Turki jadi salah satu raja langit untuk senjata drone dalam perang modern.

Mahasiswa gagal PhD adalah Bapak Drone Turki


Saat ini ada beberapa produsen drone di Turki. Namun ada tiga perusahaan yang terkenal dan memiliki predikat bagus karena menghasilkan drone yang tangguh dan berkualitas. Tiga perusahaan tersebut adalah Turkey Aerospace Industries (TAI), Baykar Makina dan Vestel.

Produsen perusahaan Baykar Makina dianggap sebagai bapak drone Turki. Namanya adalah Selcuk Bayraktar. Dia jebolan dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang bergengsi di Amerika Serikat. Di MIT, dia mengukir prestasi dalam bidang sistem avionik, sistem kinematika dan dinamika, kontrol penerbangan dan pengembangan algoritma navigasi.

Ketika menempuh PhD di Georgia Institute Technologi di AS, dia memutuskan untuk menggagalkan diri dan memilih mengabdi untuk mengembangkan teknologi drone nasional Turki. Dengan perusahaan yang dikelola oleh keluarga bernama Baykar Mina dan Baykar Defense, ia menciptakan Bayraktar TB2, teknologi drone canggih dan tangguh yang saat ini jadi produk andalan Turki.

Sedangkan TAI mengembangkan drone untuk Angkatan Bersenjata Turki dan menciptakan Anka atau dalam istilah lainnya, Phoenix. Selanjutnya ada Vestel yang membuat Karayel, yang berguna sebagai drone intai dan tempur. Baik TB2 maupun Anka atau Karayel, mereka memiliki berbagai varian canggih yang menjadi produk teknologi drone unggulan negara Turki.

Ketika pada tahun 2015, TB2 sukses melakukan uji coba di atas ketinggian 5.000 meter, drone tersebut kemudian menjadi andalan. TB2 banyak digunakan untuk melakukan pengintaian dan penyergapan di wilayah Turki tenggara, di mana para pemberontak Kurdi PKK dan YPG beroperasi. Namun lebih jauh dari itu, drone tersebut kemudian berkembang tak hanya sebagai pemburu pemberontak, tapi juga menjadi teknologi komoditas potensial ekspor, yang mengubah "peta permainan" peperangan modern saat ini.

Tactical Block 2

Bayraktar TB2 (Twitter.com/Mike Kevrekidis)

Kita akan membahas lebih dahulu TB2 buatan Baykar Defense. Drone satu ini memiliki kemampuan yang tangguh dan diakui oleh banyak negara. TB2 atau Tactical Block 2 memiliki rentang sayap 12 meter. Panjangnya 6,5 meter dan tinggi 2,2 meter.

TB2 memiliki kemampuan melangit lebih dari 5.000 meter hingga 7.000 meter. Selain itu, drone satu ini memiliki teknologi baterai yang cukup handal karena mampu bertahan selama 27 jam. TB2 juga sanggup membawa rudal sampai dengan 150 kg yang dipandu dengan laser sehingga memiliki kemampuan serang yang sangat presisi.

Tahun lalu, Azerbaijan dan Armenia terlibat perang selama enam minggu. Perang dimulai pada 27 September dan berakhir pada 9-10 November 2020. Mereka memperebutkan wilayah Nagorno-Karabakh. Wilayah tersebut diakui oleh internasional milik Azerbaijan tetapi diduduki sebagian besar oleh etnis Armenia.

Azerbaijan adalah salah satu sekutu dekat Turki dan negara itu mendapatkan drone buatan Turki yang canggih, salah satunya adalah TB2. Azerbaijan meraih kemenangan dan berhasil memaksa Perdana Menteri Nikol Pashinyan untuk sepakat menandatangani perjanjian damai yang diinisiasi oleh Rusia. Beberapa wilayah Nagorno-Karabakh akhirnya kembali ke pangkuan Azerbaijan.

Melansir dari laman The Guardian, Ben Wallace, sekretaris pertahanan Inggris kagum atas kemampuan TB2. "TB2 Turki adalah contoh bagaimana negara lain sekarang “memimpin," katanya. Drone tersebut, tambahnya, “bertanggung jawab atas penghancuran ratusan kendaraan lapis baja dan bahkan sistem pertahanan udara.” Ada pula laporan video yang menyebut bahwa TB2 bertanggung jawab membunuh banyak orang.

Menurut analisis, teknologi drone TB2 harganya masing-masing mulai dari $ 1 juta hingga $ 2 juta, jauh lebih murah daripada hampir $ 20 juta per drone yang dibayarkan oleh militer Inggris untuk armada drone generasi terbaru dan canggih yang diproduksi oleh General Atomics Amerika Serikat. 

Meskipun misalnya drone TB2 sangguh dijatuhkan oleh lawan, tapi karena biaya pembeliannya yang jauh lebih murah dari pada drone AS dan Israel, jelas TB2 jauh lebih hemat. Selain itu, tingkat presisi rudal yang diluncurkan juga tinggi meski jarak jangkauan terbangnya hanya sekitar 150 kilometer.

Anka-S yang lebih gembrot

Drone Anka-S yang dibeli Tunisia dari Turki. (Twitter.com/TunisianSoldier)

Selajutnya, adalah teknologi UAV Turki yang diproduksi oleh TAI. Patut untuk diperhatikan adalah drone dengan nama Anka jenis S atau Anka-S. Drone satu ini lebih berat ketimbang TB2. Akan tetapi ia memiliki kemampuan yang juga unggul dan tangguh.

Anka-S pertama kali sukses terbang pada 2016 dan mulai diproduksi secara massal pada tahun 2017. Drone satu ini memiliki kapasitas muatan hingga 200 kilogram. Dia memiliki kemampuan terbang dengan ketinggian lebih dari 9000 hingga 12.000 meter, lebih unggul dibanding TB2.

Meskipun dengan tubuh yang lebih besar, Angka-S juga handal dalam pertempuran. Rekaman pertempuran drone teknologi canggih Turki satu ini dilaporkan di Idlib, Suriah. Turki terlibat peperangan di Suriah dan "bertekad" untuk melindungi warga sipil dari pasukan pemerintah Bashar al-Assad.

Pertempuran itu terjadi pada Februari 2020 lalu. Dalam pertempuran tersebut, Turki menggunakan TB2 dan Anka-S untuk menggempur pasukan Suriah. Dalam laporan yang disampaikan oleh Menteri Pertahanan Turki, Hasan Akar, pasukannya mampu "menetralkan" 2.557 personel Suriah. Selain itu, Turki juga mampu menghancurkan dua jet tempur, dua drone, delapan helikopter, 135 tank, dan lima sistem pertahanan udara milik rezim Suriah.

Serangan yang dilakukan oleh Turki adalah serangan balas dendam karena Turki kehilangan 34 pasukan militernya. Kita bisa membandingkan, bagaimana kualitas gempuran Turki dari teknologi drone dan pasukan darat dengan tewasnya lebih dari 2.000 pasukan Suriah.

Dalam laporan yang dijabarkan oleh laman berita Al Jazeera, Anka-S mampu menyerang pesawat musuh di medan perang konvensional. Anka-S dapat terbang dalam skuadron, berkerumun bersama TB2 dan mampu "mengerumuni" atau membanjiri sistem pertahanan udara Suriah dan dengan cepat menjatuhkan lawan.

Pasukan pemerintah mencoba memusatkan daya tembak tetapi dengan taktik Turki, upaya mereka hanya sia-sia. Turki yang membantu pasukan pejuang Suriah yang melawan rezim Assad, meraih kemenangan secara signifikan.

Tunisia berminat membeli tiga membbuah Anka-S buatan Turki dan pada Desember 2020 telah menandatangani kesepakatan senilai 80 juta dolar AS.

Vestel Karayel

Drone Karayel buatan Vestel, Turki. (Twitter.com/Mohamed Mansour)


Satu lagi teknologi drone buatan Turki adalah Karayel yang dibuat oleh Vestel. Drone satu ini memiliki kemampuan di bawah dua drone sebelumnya. Ia banyak diborong oleh Arab Saudi dan digunakan dalam perangnya melawan pemberontak Houthi di Yaman.

Karayel memiliki panjang sayap 13 meter. Drone ini memiliki kemampuan terbang mencapai ketinggian sekitar 5.000 meter. Kemampuan muatan yang ia pikul seberat 50 kilogram, paling rendah dibandingkan dengan Anka-S dan TB2.

Rekam jejak pertempurannya tidak banyak terpublikasikan. Namun selama digunakan oleh pasukan Arab Saudi dalam perang melawan kelompok pemberontak Houthi di Yaman, para pemberontak yang didukung oleh Iran tersebut telah melaporkan mampu menjatuhkan drone tersebut.

Setidaknya, kelompok Houthi dari tahun 2019 hingga 2021 telah berhasil menembak jatuh tiga buah Karayel. Meski sampai saat ini laporan kesuksesan Karayel tidak terpublikasikan, namun Arab Saudi telah sepakat melakukan kerja sama transfer teknologi dan di masa depan, negara yang memiliki kiblat umat Islam di dunia tersebut, bakal mampu membuat drone milik mereka sendiri.

Turki jadi kekuatan berbahaya di kawasan regional


Sejauh ini, politik luar negeri Turki terkenal agresif dibawah Erdogan. Turki memiliki konflik dengan Mesir, Arab Saudi, Suriah, dan Yunani. Tapi di kawasan, kemampuan militer Turki terbilang lebih unggul, bersama dengan Iran dan Israel.

Program teknologi drone dalam negeri Turki adalah salah satu program unggulan. Saat ini Turki juga sudah mengembangkan drone kamikaze, dengan ukuran yang lebih kecil, mampu mencari target secara otonom dan tubuhnya yang penuh dengan bahan peledak akan secara efektif menabrakkan diri pada target.

Turki harus diakui saat ini sebagai negara dengan program UAV mandiri yang telah siap untuk mendominasi masa depan. Perubahan yang lebih jauh dalam kebijakan luar negeri tentu akan memiliki pengaruh karena mereka memiliki senjata langit untuk perang modern. Dengan menggunakan drone, kehilangan personel yang berharga bisa diminimalisir. Selain itu, dengan harga yang jauh lebih murah, maka drone buatan Turki jauh lebih menarik dari pada drone buatan AS atau Israel.

Turki saat ini juga sudah berniat untuk mengembangkan jet tempurnya sendiri, karena selalu berkonflik dengan Amerika Serikat dan kesulitan mendapatkan jet tempur produksi AS. Jika Turki kemudian tidak terlalu bergantung pada penyedia senjata lain, akan lebih sulit lagi bagi Barat dan Rusia untuk membujuk Turki membatasi aspirasi regionalnya.



Posting Komentar untuk "Intip Drone Turki, Salah Satu Teknologi Senjata Langit Terbaik di Dunia"