Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jangan Kaget kalau Mobile Legends Dibeli Perusahaan TikTok

mobile legends dibeli tiktok, tiktok beli moonton, tiktok produksi game, game tiktok, tiktok beli mobile legends

Perusahaan pengembang game Mobile Legends yakni Moonton dikabarkan telah dibeli oleh perusahaan TikTok, yakni ByteDance. Nilai akuisi yang dibayarkan oleh ByteDance diperkirakan mencapai 4 miliar dolar AS atau sekitar Rp57,6 triliun.

Dengan diakuisisinya studio pengembang game Mobile Legends, maka ByteDance yang memiliki platform video pendek Douyin di Tiongkok dan TikTok secara Global akan menjadi pesaing raksasa Tencent.

Keputusan ByteDance dalam mengakuisisi pemilik Mobile Legends tersebut sebenarnya bukanlah sebuah hal yang mengejutkan karena pada dasarnya sang pemilik ByteDance sendiri telah lama melakukan investasinya dalam bidang game. Mereka sudah melakukannya sejak tahun 2015 lalu.

Moonton akan beroperasi secara independen

Sejak tahun 2015 ketika ByteDance mulai menjajaki investasinya di bidang game, perusahaan tersebut telah memiliki sekitar selusin studio pengembang game. Selain itu, perusahaan yang memiliki TikTok itu sudah memiliki sekitar 29 perusahaan game yang saling terkait.

Sejak saat itu, ByteDance telah membangun studio gamenya sendiri di kota-kota di Tiongkok yakni Beijing, Shanghai, Hangzhou, dan Shenzhen. Semua studio pengembang game tersebut membangun game menengah hingga berat kecuali studio yang berada di Shenzhen.

Maka memang bukanlah hal yang mengejutkan sebenarnya ketika ByteDance mencaplok Mobile Legend. Namun, menurut kantor berita Reuters, meski Moonton sudah diakuisisi, kabarnya dia akan tetap beroperasi secara independen dari ByteDance.

Moonton sendiri dikembangan dengan teknologi yang didirikan oleh mantan karyawan Tencent. Teknologi game yang dikembangkan Moonton, khususnya dalam game Mobile Legends adalah salah satu game yang paling terkenal di Asia Tenggara dengan game multiplayer online battle arena (MOBA) Mobile Legends.

Bagaimana ByteDance bisa mencaplok Mobile Legends?

Sudah dipaparkan sebelumnya, bahwa investasi ByteDance di bidang game telah dilakukan sejak lama. Perusahaan startup tersebut telah mulai mencoba mendiversifikasi produknya selain mengandalkan iklan di platform berbagi video pendek Douyin dan TikTok.

Karena itu, bukan juga sebuah hal yang mengagetkan ketika sekitar 50% dari pendapatan Douyin, aplikasi video populer TikTok dari aplikasi video populer ByteDance, pada tahun 2019 berasal dari iklan game.

Pendapatan Bytedance sendiri pada tahun 2020 meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi sekitar 37 miliar dolar AS atau setara Rp533,3 trilun dan laba operasi melebihi 7 miliar dolar AS atau setara Rp100,9 triliun. Jumlah itu naik hampir 1,3 kali lipat dari laba operasi 2019 sebesar 3 miliar dolar AS atau Rp43,2 triliun.

Pada bulan Februari lalu, ByteDance telah meluncurkan situs web untuk bisnis gamenya, yang mencakup berbagai genre. Di bawah lini game Nuversegame, ByteDance siap untuk merangsek maju dan berkompetisi di pasar game Tiongkok yang telah didominasi oleh Tencent dan NetEase.

Lini Nuversegame milik ByteDance dipimpin oleh Yan Shou sejak tahun lalu. Melansir dari Techcrunch, Yan Shou pernah mengatakan bahwa bisnis di bidang “gaming adalah bisnis konten. Monopoli sulit dipertahankan (dalam industri ini) selama ada kesabaran.” Yan Shou sendiri disebut sebagai mantan manajer strategi di Tencent.

Sejak tahun 2018, ByteDance telah berinvestasi di setidaknya 11 perusahaan game. Enam di antaranya merupakan akuisisi penuh. 

Karena beberapa alasan tersebut, maka akuisisi ByteDance terhadap Moonton yang memiliki Mobile Legends bukanlah sesuatu hal yang terlalu mengejutkan. Selain itu, ByteDance juga terkenal memberikan gaji besar kepada karyawannya. Dan bisnis dalam game adalah bisnis yang akan mendapatkan uang secara stablik karena para pemain biasanya akan bertahan memainkan satu game dalam beberapa waktu yang lama.

Jangan sepelekan mini game di dalam aplikasi TikTok

TikTok mulai memasukkan mini game ke dalam platform mulai tahun 2019 lalu. Dengan memasukkan mini game tersebut, TikTok mengikuti trend yang telah dilakukan sebelumnya oleh raksasa WeChat. Rilis game mini yang ringan itu diluncurkan di Tiongkok di aplikasi kembaran TikTok yakni Douyin.

Nama mini game pertama yang dimasukkan ke dalam platform adalah Yinyueqiuqiu. Laman berita Global Times yang dikelola oleh pemerintah Tiongkok mengabarkan bahwa salah satu pengguna Douyin yang bernama Li Dongjie,mengatakan bahwa dia menganggap game itu menarik dan "mudah dimainkan." Perusahaan telah berencana untuk memberdayakan pengembang guna meluncurkan mini game dalam aplikasi semacam itu di masa depan.

Dalam buku pegangan pengembang game milik ByteDance, dijelaskan bahwa “melalui 'rekomendasi' yang ditargetkan, 'algoritme' kami akan secara otomatis menampilkan mini game yang disajikan dalam berbagai bentuk kepada pengguna." Hal tersebut akan membuat semua game memiliki peluang yang adil dan sama untuk mendapatkan eksposur awal.

Selain itu, iklan di Douyin atau TikTok Salah adalah dengan memasukkan iklan asli ke dalam umpan konten pengguna. Video telah terbukti lebih interaktif, mudah digunakan dan memacing orang untuk mengeklik sehingga bisa mendapatkan konversi yang jauh lebih tinggi dari pada iklan tradisional.

Dengan begitu, TikTok atau Douyin sudah memiliki pemahaman yang baik mengenai perilaku orang. Karena hal tersebut, akan lebih banyak game yang direkomendasikan. Logikanya, semakin banyak orang yang melihat rekomendasi, akan semakin besar peluang prediksinya akurat. Sejauh ini, TikTok sendiri telah diundung sekitar dua miliar kali pada tahun 2020 lalu.

Daftar game yang diproduksi oleh ByteDance

Awal bulan Maret tahun 2021 ini, divisi game ByteDance memiliki jumlah karyawan sebanyak 3.000 orang. Jumlah itu dianggap belum seberapa jika dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan game raksasa seperti Tencent atau NetEase.

Akan tetapi sebagai pendatang baru, ByteDance mampu memberikan berbagai portofolio game yang beragam genre. Perusahaan rintisan game akan sulit melakukannya kecuali mereka memiliki bekal duit yang banyak seperti yang dimiliki oleh ByteDance.

Beberapa game buatan ByteDance bahkan mampu menjadi game gratis di IOS teratas Tiongkok. Di antaranya game tersebut adalah game balap mobil Drift Race, game musik Yinyue Qiuqiu, dan game puzzle Brain Out.

 Beberapa game lain milik ByteDance yang dipasang di situs resmi Nuverse, lini pengembang gaming milik ByteDanca adalah Eden No Tobira, Arena of Evolution: Red Tides, Strike Royale, Warhammer 40.000, Inked, dan Portal Men. Lima game terakhir tersebut tersedia di Google Play Store.

Selain itu masih ada beberapa game lain yang dikembangkan oleh Nuverse milik ByteDance yakni Burning Streetball, Terminal Battleground, Fairy Cats: Miracle Love, dan Blades of The Guardians.


Posting Komentar untuk "Jangan Kaget kalau Mobile Legends Dibeli Perusahaan TikTok"