Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ragam Kuliner yang Dibuat dengan Teknologi Printer

kuliner, teknologi, printer, 3d, pizza, kue, artabak.com, martabak
Teknologi printer kuliner 3D dari BeeHex (YouTube.com/BeeHex)

Teknologi semakin maju dan sudah jauh merambah dunia kuliner. Salah satu teknologi kuliner yang keren adalah teknologi printer 3D. Jika selama ini kita cuma mengetahui bahwa printer itu mengeluarkan kertas, sekarang makanan termasuk di antaranya pizza, juga sudah bisa dicetak dengan printer.

Lebih keren lagi, pizza tersebut dapat dibuat dengan teknologi hanya dalam beberapa menit.

Saat ini sudah ada beberapa perusahaan yang mencoba menciptakan teknologi printer kuliner. Terobosan dibidang teknologi kuliner tersebut mungkin akan menimbulkan pro dan kontra seperti misalnya mereduksi kemampuan handal seorang koki atau lainnya.

Akan tetapi, satu hal yang pasti bahwa dengan terciptanya printer kuliner, maka orang-orang yang biasa menyantap makan tersebut tentu dapat membuat makanan dengan lebih murah dan sesuai dengan selera mereka. Temuan inovatif printer kuliner akan dijelaskan oleh tim Teknolemper.com berikut ini.

1. Teknologi printer untuk memberi makan astronot

printer, kuliner, pizza, astronot, nasa
(Unsplash.com/NASA)

Ide printer tiga dimensi atau 3D barangkali sudah lama. Namun printer 3D untuk kuliner sepertinya populer pada tahun 2016 lalu. Pihak yang menginginkan printer 3D dalam bidang kuliner adalah NASA, badan antariksa Amerika Serikat.

NASA memberikan hibah uang untuk pengembangan printer 3D kuliner kepada Anjan Contractor, seorang insinyur mekanik senior di Systems and Material Research Corporation (SMRC), yang berbasis di Austin, Texas. Jumlah hibah tersebut sebanyak 125 ribu dolar AS atau setara Rp 1,8 miliar.

Harapan yang dimiliki oleh NASA adalah teknologi itu suatu hari nanti dapat digunakan untuk memberi makan astronot pada misi luar angkasa yang lebih lama, seperti kira-kira 520 hari, guna keperluan penerbangan berawak ke Mars. Untuk misi berawak ke tujuan lebih jauh di tata surya akan membutuhkan makanan yang tentunya dapat bertahan lebih lama lagi.

Akhirnya, Anjan Contractor tersebut berhasil menciptakan teknologi printer kuliner yang bernama Chef 3D BeeHex.

Cara kerja BeeHex

Cara kerja teknologi printer kuliner Chef 3D BeeHex adalah dimulai dengan "mencetak" selembar adonan. Setelah itu akan diikuti dengan memberikan lapisan "saus" tomat, yang terdiri dari bubuk yang dicampur dengan air dan minyak.

Pizza yang dicetak 3D tidak akan diberikan toping seperti pizza umumnya. Namun pizza tersebut akan diberi lapisan protein sebagai topingnya. Protein tersebut bisa berasal dari hewan, susu atau tumbuhan.

Semua bahan akan diubah menjadi bubuk, dan dikurangi unsur kelembapannya sehingga dapat bertahan hingga setidaknya 30 tahun. Bubuk bahan makanan akan dimasukkan ke dalam cartridge printer dengan campuran air dan minyak kemudian sistem akan melakukan sintesis untuk menjadikan itu sebagai pizza.

Sintesis makanan yang dibuat oleh Chef 3D BeeHex juga bisa menjadi cara yang efektif untuk mengatasi masalah kekurangan makanan akibat pertumbuhan populasi yang cepat, kata sang Kontraktor.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencetak pizza dengan teknologi printer?

Dibandingkan dengan manusia, printer kuliner Chef 3D Beehex lebih cepat, lebih bersih dan lebih konsisten. Hanya satu orang yang dibutuhkan untuk mengerjakan mesin, yang dapat meletakkan adonan, saus, dan keju untuk pizza berukuran 12 inci dalam satu menit, sebelum dimasukkan ke dalam oven untuk lima orang.

Ukuran pizza yang tersedia adalah 10 sampai dengan 12 inci. Harga pizza cetak printer kuliner itu diperkirakan dari 8 hingga 15 dolar AS atau Rp 115 ribu hingga Rp216 ribu.

Uniknya lagi, menurut Business Insider, bentuk pizza bisa beragam, tergantung dengan gambar berformat jpeg yang ada di dalam sistem komputer. Bahkan ketika gambar tersebut seperti Donald Trump, maka printer dapat mencetaknya seperti dengan gambar.

2. Teknologi Brill 3D Culinary Studio

teknologi, printer, kuliner, 3d, kue
Tangkap layar hasil printer kuliner 3D oleh Brill Inc (YouTube.com/Brill Inc)

Selain BeeHex ada pula Brill 3D Culinary Studio. Teknologi inovatif printer kuliner tersebut dikeluarkan oleh perusahaan bernama Brill Inc. yang bekerja sama dengan 3D Systems.

David Nies, Wakil Presiden Pengembangan Bisnis untuk Brill, Inc mengatakan bahwa “tim kami di Brill telah bermitra dengan Sistem 3D untuk mengembangkan alat transformatif bagi industri kuliner. Kami sangat senang menyediakan teknologi ini kepada koki, yang memungkinkan mereka untuk membuat apa pun yang dapat mereka bayangkan dengan satu sentuhan tombol.

Teknologi printer kuliner dari Brill disebut sebagai salah satu teknologi yang menakjubkan dan menawarkan solusi pelanggan baru dengan biaya yang rendah serta mudah untuk digunakan.

Kue dan pastry

Printer kuliner yang dikeluarkan oleh Brill sepertinya tidak digunakan dengan tujuan untuk membuat pizza seperti BeeHex. Namun, lebih dari itu, printer tersebut lebih kepada kue-kue kecil dan manisan gula-gula.

Melansir dari laman resminya, mereka yakin bisa "mengubah industri kuliner" dengan teknologi mereka. Item yang diproduksi termasuk kue toppers, permen, centerpieces, gula batu, hiasan koktail, item musiman, hiasan, "dan banyak lagi".

Gambar-gambar "hasil cetak" printer kuliner tersebut juga terlihat cantik dan elegan, rumit dan menarik, dan yang paling penting, terlihat sangat lezat. Dari gambar-gambar galeri yang dipamerkan, itu benar-benar menggugah selera.

3. Teknologi printer 3D pembuat daging tapi bahannya nabati

daging, nabati, redefine meat, israel, printer, kuliner, 3D
(Unsplash.com/Kyle Mackie)

Mungkin terdengar aneh, tapi memang itu adanya. Perusahaan bernama Redefine Meat adalah sebuah perusahaan rintisan dari Israel yang berusaha untuk menggantikan daging dengan bahan dasar nabati. Mereka membuat daging tersebut dengan menggunakan printer kuliner 3D.

Redefine Meat berbasis di Rehovot, selatan Tel Aviv, dan menguji pasar pertama "Alt-Steak" di restoran kelas atas tahun 2020 lalu.

CEO Eshchar Ben-Shitrit dari Redefine Meat menjelaskan kepada Reiters bahwa mesin teknologi printer kuliner 3D akan diluncurkan tahun 2021 dan akan mampu mencetak 20kg per jam dengan biaya lebih rendah dari pada daging asli. Kedepannya, ratusan kilogram dapat dihasilkan dari teknologi printer kuliner tersebut.

Bulan Februari lalu, Redefine Meat berhasil mengumpulkan pendanaan 29 juta dolar AS atau sekitar Rp418 miliar dalam putaran pendanaan yang dipimpin oleh perusahaan modal ventura Happiness Capital dan Hanaco Ventures.

Bagi kalian yang menghindari daging karena takut berpenyakit kolesterol atau takut penyakit lainnya, bisa mempertimbangkan untuk membeli produk dari Redefine Meat tersebut. Apalagi untuk kalian para aktivis vegan, berikhtiarlah untuk bisa mencicipi daging nabati yang dibuat oleh Redefine Meat.

4. Teknologi printer Sugar Lab

Sampai saat ini sebenarnya printer kuliner 3D masih terus dalam tahap pengembangan. Sepertinya belum ada printer yang memang benar-benar memiliki ketangguhan. Konsep yang dihadirkan memang keren dan canggih seperti portofolio yang bertebaran dalam video.

Meski begitu, kemajuan printer kuliner 3D masih terus diharapkan oleh para inovator.

Pada akhir tahun 2020 lalu, sebuah perusahaan di Los Angeles bernama Sugar Lab memperkenalkan produk dari teknologi printer 3D kulinernya. Sugar Lab sendiri adalah sebuah "toko roti digital" dan di dalamnya terdapat berbagai produk yang dibuat dengan printer 3D sekaligus dengan harga bagi yang ingin membelinya.

Makanan yang dicetak dengan printer kuliner 3D oleh toko Sugar Lab menampilkan permen, dekorasi cupcake, hiasan koktail, dan kulit pastry. Bentuknya juga unik dan warna-warni. Harga yang ditawarkan juga beragam.

“Sasaran kami di Sugar Lab adalah mengejar inovasi kuliner yang dipimpin koki dalam kemitraan dengan tim desain digital kami yang terampil, menggunakan teknologi pencetakan 3D,” kata Kyle von Hasseln, kepala eksekutif dan salah satu pendiri Sugar Lab. 

5. Teknologi printer kuliner 3D untuk membantu lansia

Terakhir adalah teknologi printer kuliner 3D yang digunakan untuk membantu orang-orang yang kesulitan mengunyah, terutama lansia. Dalam sebuah kajian, 60 persen lansia kesulitan dalam mengunyah makananannya. Karena apa? Ya tentu saja karena gigi mereka sudah tanggal.

Sebuah teknologi printer kuliner dari Jerman membuat makanan berbasis gastronomi molekuler yang terlihat keras ketika dipegang tapi benar-benar meleleh ketika sudah masuk ke dalam mulut. Perusahaan tersebut bernama Biozoon.

Produk yang dihasilkan oleh Biozoon bernama seneoPro. Menurut informasi dari situs resminya, produknya terdiri dari makanan pembuka, hidangan utama, makanan penutup, dan camilan. Visualitas makanannya juga dapat dibuat menarik.

Sampai saat ini, teknologi printer kuliner 3D masih dalam pengembangan dan belum ada yang benar-benar sempurna sehingga menjadi andalan. Namun ada beberapa penilaian bahwa sebaik apa pun printer kuliner 3D mencetak makanannya, ia tidak akan lebih baik dari makanan biasa yang dimasak secara konvensional dan profesional.

Keunggulan printer kuliner 3D adalah, bahwa mesin tersebut dapat membuat atau mencetak bentuk-bentuk yang rumit dan mungkin lebih higienis tetapi belum akan mampu membuat masakan-masakan yang biasa diracik dan dimasak dengan kerumitan bumbu dan rempah.

Tapi jika teknologi printer kuliner 3D sudah berkembang secara maksimal dan diproduksi secara masif bisa jadi alatnya bisa didapat dengan harga terjangkau. Maka bukan tidak mungkin jika penjual martabak atau roti kukus di artabak.com juga akan menggunakan mesin tersebut.

Posting Komentar untuk "Ragam Kuliner yang Dibuat dengan Teknologi Printer"