Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Teknologi Pembantu Tidur Laris selama Corona

Tidur juga butuh teknologi. Saat ini ada banyak ragam inovasi dalam teknologi tidur, terutama untuk orang-orang yang selalu kesulitan tidur atau menderita insomnia. Teknologi pembantu tidur hadir untuk membuat mereka bisa menggapai mimpi yang diidamkan.


teknologi, tidur, laris, corona, aplikasi, bantal, selimut
Selama pandemi virus corona, orang susah tidur dan teknologi untuk bantu tidur laris. (pexels.com/Marcus Aurelius)

Teknologi untuk membantu manusia tidur mengalami lonjakan penjualan. Selama dunia dihantam pandemi virus corona, beberapa teknologi tersebut laris manis. Peralatan teknologi bantu tidur seperti robot pernapasan, selimut mewah, hingga aplikasi aural mengalami lonjakan pembelian. Di era wabah virus corona, tidur menjadi komoditas yang sangat menguntungkan.

Menurut Darian Leader yang menulis Why We Can't Sleep, “Dengan meningkatnya ancaman besar-besaran terhadap kesehatan, situasi sosial-ekonomi, dan kesejahteraan umum kita, akan menjadi aneh jika ada yang bisa tidur nyenyak di malam hari,” katanya seperti dilansir dari laman The Guardian.

Seperti kita ketahui bersama, pandemi virus corona telah membuat tahun 2020 menjadi tahun yang suram. Banyak ekonomi negara menjadi carut-marut, jutaan orang kehilangan pekerjaan, stres yang menumpuk bagi orang tua karena harus mengajari anak-anaknya selama di rumah, dan berbagai efek destruktif lain dari pandemi. Hal itu telah membuat orang kesulitan tidur sehingga mereka butuh bantuan dari obat-obatan dan teknologi.

Berikut ini adalah peralatan teknologi tidur yang laris selama virus corona melanda dunia.

1. Selimut Berbobot

Selimut berbobot atau selimut graviti adalah teknologi selimut yang lebih berat dari pada selimut biasa. Beratnya antara dua hingga 13 kilogram. Dikabarkan menurut penelitian, bahwa selimut tersebut dapat menjadi terapi susah tidur bagi penderita kecemasan, insomnia, atau autisme.

Selimut berbobot disebut dapat meredakan nyeri, mengurangi kecemasan, dan meningkatkan mood. Salah satu produsen selimut berbobot adalah Mela. Harga selimut tersebut sekitar 93,48 euro atau sekitar Rp 1,54 juta. Itu pun sudah mendapatkan diskon 15 persen. Selama pandemi virus corona, terjadi lonjakan penjualan hingga 250 persen.

Selimut ini secara "ajaib" akan menekan ke bawah, ke tubuh penggunanya sebanyak 10 persen dari berat tubuh.

Menurut penelitian dari Universitas Southampton pada Agustus 2020, kondisi virus corona yang telah memaksa orang-orang untuk tetap berada di rumah, membuat setidaknya satu dari empat orang susah untuk tidur. Para ahli sampai menyebut kondisi tersebut "coronasomnia."

Kondisi sulit tidur akibat berbagai masalah selama virus corona menyerang itulah yang membuat selimut-selimut berbobot sejenis mengalami lonjakan penjualannya.

2. Sarung Bantal Sutera

Selanjutnya, peralatan tidur yang juga mengalami lonjakan penjualan adalah sarung bantal sutera. Sarung bantal dikemas dengan teknologi pembuatan sutera yang nyaman sehingga dipercaya dapat menjadi salah satu alat terapi bagi mereka yang susah tidur.

Selama 12 bulan terakhir, salah satu penjual sarung bantal sutera, John Lewis, mengaku telah terjadi lonjakan penjualan. Peningkatan tersebut bukan main-main karena melonjak hingga 533 persen. Harga dari sarung bantal sutera itu rata-rata 50 euro atau setara Rp 850 ribu.

Dengan kondisi ancaman kesehatan, sosial-ekonomi, dan kesejahteraan sehingga membuat orang susah tidur, para industri perlengkapan tidur masuk melihat celah tersebut. Mereka memasarkan produk teknologinya dan menjadikan tidur sebagai salah satu komoditas yang dapat mengeruk keuntungan.

Baca juga: Purwarupa Starship SN-10 Milik SpaceX Meledak ketika Sudah Mendarat

3. Aplikasi pembantu tidur Loona

Selain peralatan konvensional seperti selimut dan sarung bantal yang dimodifikasi dan dikampanyekan untuk membantu mereka yang menderita kesulitan tidur, ada juga aplikasi yang diciptakan untuk membuat orang-orang dapat terbebas dari sulit tidurnya.

Aplikasi tersebut bernama Loona. Aplikasi diluncurkan oleh supermodel bernama Natalia Vodianova yang cantik jelita.

Loona dirancang untuk merekomendasikan 'sleepscape' malam, yang menggabungkan beberapa aktivitas seperti teknik relaksasi yang berdasarkan kegiatan mewarnai, dengan mendongeng visual dan aural.

Ketika Natalia Vodianova diwawancarai oleh Vogue tentang apa yang akan dialami orang ketika mereka menggunakan Loona, ia menjawab bahwa aplikasi tersebut dibuat untuk orang-orang seperti dirinya. Maksudnya adalah orang yang sangat sibuk, sangat sulit untuk duduk sebentar dan bermeditasi.

Suara yang tenang dari aplikasi memandu meditasi sehingga tidak perlu terlalu membuat penggunanya banyak berpikir. Namun disaat yang sama, akan ada perasaan pencapaian, sehingga seseorang dapat "melarikan diri" ke dunia tidur yang selama hidupnya sulit dimasuki.

4. Aplikasi pembantu tidur Wave

Selain Loona, masih ada aplikasi lainnya yang juga dibuat untuk orang susah tidur. Aplikasi tersebut adalah Wave. Aplikasi didirikan oleh Mason Levey dan Brad Warsh. Aplikasi ini adalah panduan meditasi untuk menenangkan diri dan diperkenalkan pada Januari 2021 lalu.

Wave akan memandu orang-orang yang mengunduh dan membeli aplikasi itu dalam beberapa sesi persiapan untuk tidur, seperti latihan pernapasan dan kesadaran, suara dongeng yang merdu disertai musik latar syahdu, kemudian mengeluarkan gelombang rendah untuk relaksasi. Aplikasi tersebut dihargai sebesar 10 dolar AS atau setara Rp 143 ribuan.

Pendiri aplikasi Wave menjelaskan bahwa kombinasi latihan pernapasan, pemindaian tubuh, dan visualisasi sangat bagus untuk mengurangi stres dan kecemasan serta mengurangi ketegangan pada tubuh.

Karena itu, hal tersebut dapat mendorong relaksasi otot. “Visualisasi juga bagus karena membantu Anda menghentikan pikiran apa pun yang membuat stres dan dapat mempersiapkan mental Anda untuk tidur yang lebih baik," kata pendiri aplikasi itu menjelaskan.

Mason Levey dan Brad Warsh juga mengatakan bahwa aplikasi “ini menciptakan akuntabilitas waktu tidur, dan misi kami adalah membantu klien menciptakan kebiasaan dan rutinitas sebelum tidur yang sehat," katanya menambahkan.

5. Saran dari pakar tidur

Industri perlengkapan tidur diperkirakan pada tahun 2019 memiliki angka keuntungan hingga mencapai 79 miliar dolar AS atau setara Rp 1,1 triliun. Perkembangan bisnis tersebut pada tahun 2030 nanti diperkirakan akan mengalami lonjakan hebat hingga mencapai keuntungan 163 miliar dolar AS atau setara dengan Rp 2,32 triliun.

Namun salah seorang pakar tidur bernama  Neil Stanley yang berbasis di Inggris heran dengan perkembangan teknologi pembantu tidur saat ini yang meledak. Menurutnya, “manusia telah tidur nyenyak selama jutaan tahun terakhir tanpa robot atau losion dan ramuan apa pun,” katanya seperti dilansir dari laman BBC.

Tapi kini tidur kini memiliki harga yang harus dibeli oleh orang-orang, yang merasa kesulitan untuk mendapatkan istirahat malam yang berkualitas.

Menurut Stanley, yang dibutuhkan oleh seseorang agar bisa tidur hanya tiga hal, yakni “Anda membutuhkan kamar tidur yang kondusif untuk tidur-gelap, tenang, sejuk, nyaman-Anda membutuhkan tubuh yang rileks dan Anda membutuhkan pikiran yang tenang. Itu saja. Ini adalah hal-hal yang dapat dilakukan orang-orang mulai malam ini, dan tidak ada biaya sepeser pun untuk melakukannya."

Mungkin kamu tertarik: Ukir Sejarah, Satelit Pertama Paraguay Masuki Orbit

Posting Komentar untuk "Teknologi Pembantu Tidur Laris selama Corona"