Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

YouTube dan Facebook Hapus Saluran Militer Myanmar


YouTube dan Facebok menghapus saluran militer milik Myanmar. Tindakan itu dilakukan karena militer Myanmar dianggap melakukan pelanggaran kebijakan yang ada pada dua platform media sosial tersebut.


youtube, facebook, hapus, saluran, militer, myanmar, tiktok, kudeta
Ilustrasi (Unsplash.com)

YouTube, salah satu platform yang dimiliki raksasa teknologi Alphabet Inc. memutuskan untuk menghapus saluran milik militer Myanmar. Hal itu dilakukan karena saluran tersebut dianggap telah melakukan pelanggaran terhadap pedoman kebijakan penggunaan.

Militer Myanmar atau yang disebut Tatmadaw melakukan kudeta sejak tanggal 1 Februari 2021. Peristiwa tersebut kini berbuntut panjang dengan aksi demonstrasi penolakan yang dilakukan oleh rakyat. Rangkaian aksi protes terjadi di beberapa kota besar Myanmar, seperti Naypyitaw, Yangon, Mandalay dan kota-kota lainnya.

Namun pemerintah militer yang kini berkuasa, bertindak represif. Mereka menindak para demonstran tidak hanya dengan perlengkapan anti-huru-hara biasa seperti gas air mata dan peluru karet, tapi menggunakan peluru tajam. Sejauh ini, sudah lebih dari 50 demonstran Myanmar yang meregang nyawa karena aksi kekerasan yang dilakukan pasukan pemerintah.

Sebanyak lima saluran militer Myanmar dihapus YouTube

Propaganda dan ancaman yang dilakukan oleh militer Myanmar tidak hanya mencakup wilayah luring, tapi juga wilayah daring. Lewat saluran di situs berbagi video YouTube, mereka melancarkan ancaman kepada rakyat Myanmar yang melakukan demonstrasi.

Melansir dari laman BBC, pihak YouTube mengatakan "Kami telah menghentikan sejumlah saluran dan menghapus beberapa video dari YouTube sesuai dengan pedoman komunitas kami dan hukum yang berlaku." Saluran militer Myanmar yang dilarang sebanyak lima.

Selain lima saluran utama milik militer Myanmar, YouTube juga menghapus beberapa saluran yang dimiliki jaringan negara, MRTV, (Radio dan Televisi Myanmar) serta Myawaddy Media milik militer, MWD Variety dan MWD Myanmar.

Baca juga: Facebook akan Buat Instagram untuk Anak-Anak

Facebook dan Instagram sebelumnya sudah melakukan pemblokiran

Penghapusan saluran milik militer Myanmar sebelumnya telah dilakukan oleh media sosial Facebook. Facebook menangguhkan semua halaman yang dijalankan oleh angkatan bersenjata Myanmar. Penangguhan terkait dengan kudeta yang dilakukan pada 1 Februari.

Perusahaan media sosial Facebook, tak hanya menangguhkan semua akun milik militer Myanmar, namun juga melarang semua akun militer Myanmar di Instagram. Keputusan itu dilakukan pada akhir Februari lalu, yakni pada tanggal 25.

Melalui pernyataan resminya, Facebook mengatakan terus memantau kondisi yang saat ini terjadi di Myanmar. Mereka memposisikan kondisi Myanmar dalam keadaan darurat.

"Kami juga melarang entitas komersial yang terkait dengan Tatmadaw untuk beriklan di platform," kata perusahaan itu menambahkan.

Alasan Facebook menangguhkan halaman dan akun militer Myanmar beserta entitas komersial yang berkaitan dengannya adalah karena Tatmadaw dinilai telah melakukan pelanggaran hak asasi manusia dengan kejam, mengulangi perilaku pelanggaran pedoman penggunaan, konten yang berisi seruan kekerasan dan hasutan, serta kudeta memiliki ancaman daring serta dapat menimbulkan ancaman bisnis luring.

Oknum militer Myanmar ancam lewat TikTok

Tegangnya situasi di Myanmar telah membuat banyak mata di seluruh dunia menoleh ke Asia Tenggara. Akan tetapi, ketegangan tak hanya terjadi di wilayah lapangan saja, tetapi juga terjadi di wilayah daring.

Orang-orang yang disinyalir sebagai anggota militer Myanmar tidak hanya melancarkan ancaman dan propaganda lewat Facebook atau YouTube, tapi juga lewat media sosial berbagai video singkat, TikTok. Mereka menggunakan platform itu untuk mengancam para demonstran.

Melansir dari laman berita Reuters, orang yang berada di dalam video itu mengatakan "Saya akan menembak di wajahmu, dan saya menggunakan peluru sungguhan. Saya akan berpatroli di seluruh kota malam ini dan saya akan menembak siapa pun yang saya lihat. Jika kalian ingin menjadi martir, saya akan memenuhi keinginan itu."

Tim dari Reuters mencoba menghubungi akun pemilik video namun tak mendapatkan tanggapan. Kelompok pemerhati hak-hak digital Myanmar ICT for Development (MIDO) mengatakan telah menemukan lebih dari 800 video pro-militer yang mengancam pengunjuk rasa. Desakan untuk menghapus video-video ancaman kekerasan di TikTok terus bergaung. Beberapa video telah mulai dihapus dari platform tersebut.

Mungkin kamu tertarik: Xiaomi Segera Buat Mobil Listrik

Posting Komentar untuk "YouTube dan Facebook Hapus Saluran Militer Myanmar"