Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

KF-21 Boramae, Teknologi Kolaboratif Indonesia-Korea Selatan

Korea Selatan (Korsel) baru saja memamerkan jet tempur KAI KF-21 Boramae. Sebelumnya, teknologi jet tempur tersebut bernama KF-X/IF-X atau Korean Fighter Xperiment/Indonesian Fighter Xperiment. Tahun 2026 kemungkinan akan segera diproduksi.

teknologi jet tempur, jet tempur boramae, jet tempur KF-21, KF-21, KF-X/IF-X, Korsel, Indonesia, teknologi militer terkini, teknologi jet tempur
(Wikimedia.org/Alvis Cyrille Jiyong Jang (Alvis Jean))

Bulan April 2021 ini, Korea Selatan (Korsel) meluncurkan purwarupa teknologi jet tempurnya. Peluncuran purwarupa teknologi jet tempur itu dilakukan di Sacheon, sekitar 300 kilometer arah selatan ibukota Seoul tepatnya pada 9 April lalu.

Pesawat yang berjuluk KF-21 tersebut menjadi teknologi militer terbaru dari Korea Selatan. Negara tersebut akan menjadi negara kedelapan yang mengembangkan teknologi jet tempur supersonik dengan teknologinya sendiri.

KF-21 memang bukan jet tempur tercanggih, akan tetapi jet tempur Boramae tersebut setidaknya berada lebih tinggi dibanding kelasnya. KF-21 adalah jet tempur generasi 4,5.

Purwarupa KF-21 belum memiliki teknologi siluman tetapi dikabarkan bahwa pesawat tersebut nantinya dapat ditingkatkan untuk memiliki teknologi siluman.

Presiden Korsel Moon Jae In yang hadir dalam acara peluncuran purwarupa jet tempur Boramae itu menilai bahwa acara tersebut adalah tonggak bersejarah pengembangan industri penerbangan Korsel.

Spesifikasi jet tempur Boramae

Generasi jet tempur Boramae atau jet tempur KF-21 berada di bawah F-35 milik Amerika Serikat. Jet tempur F-35 adalah jet tempur generasi ke-5. Sedangkan kemampuan purwarupa jet tempur Korea Selatan itu lebih tinggi jika dibandingkan F-16 (generasi ke-4).

KF-21 memiliki bentuk tubuh yang mirip dengan jet tempur siluman atau Stealth Fighter F-22 milik AS dan diperkirakan memang meniru desain jet siluman AS tersebut.

Nantinya, jet tempur terkini milik Korea Selatan itu akan dilengkapi dengan rudal udara-ke-udara dan rudal udara-ke-permukaan.

Berat kosong jet tempur Boramae diperkirakan sekitar 9.300 kg. Bentang sayapnya sekitar 9,8 meter dan panjang pesawat tempur tersebut sekitar 15,2 meter.

Varian yang akan diproduksi menyesuaikan kebutuhan. Nanti akan ada rancangan untuk satu kursi atau dua kursi.

Mesin yang ditanamkan untuk mentenagai jet tempur terbaru Korea Selatan itu kemungkinan adalah Pratt & Whitney F100aPratt & Whitney F100 yang biasa digunakan di tubuh F-15 dan F-16 Fighting Falcon.

Selain mesin tersebut, ada kemungkinan mesin lain yang bakal ditanamkan adalah mesin buata GE Aviaton yakni General Electric F110. Pesawat tempur yang menggunakan mesin ini adalah F-14, F-15 dan F-16 milik AS.

Selain dua mesin tersebut, ada kemungkinan jet tempur Boramae juga akan dibekali dengan mesin General Electric F414 yang digunakan oleh Boeing F/A-18E/F Super Hornet.

Purwarupa KF-21 ini akan segera diproduksi untuk uji coba. Rencanannya jumlah jet tempur untuk uji coba yang dibutuhkan sebanyak enam. Tiga jet tempur akan selesai tahun ini dan sebanyak tiga jet tempur lainnya akan selesai tahun 2022.

Jarak terbang yang mampu dicapai oleh jet tempur terkini milik Korea Selatan yang bernama Boramae diperkirakan akan mencapai 2.900 meter dan memiliki kemampuan yang mirip dengan F-35A generasi kelima.

Baca juga: Intip Drone Turki, Salah Satu Teknologi Senjata Langit Terbaik di Dunia

Perjalanan panjang jet tempur Boramae

Boramae dalam bahasa Korea berarti "Elang Muda." Jet tempur ini bisa menjadi salah solusi bagi mahalnya perawatan jet tempur F-35 Amerika Serikat.

F-35 sendiri disebut sebagai pesawat yang seperti Ferari. Hanya digunakan pada akhir pekan saja dan bukan untuk kendaraan harian. F-35 dirancang untuk memasuki pertempuran level tinggi dan perang seperti itu tidak atau belum terjadi.

Upaya Korea Selatan membuat versi F-35 yang lebih murah dari pada AS telah berlangsung sejak 20 tahun lalu, tepatnya pada tahun 2001. Saat itu, proyek ambisius jet tempur Korsel dikumandangkan oleh Presiden Kim Dae Jung.

Proyek ini mengalami beberapa penundaan. Tidak terlalu jelas apa alasan penundaan pengembangan tersebut, tapi kemungkinan besar pada persoalan dana.

Pada tahun 2010, Korea Selatan menawarkan kerjasama dengan Indonesia dan hal itu disepakati. Dalam kesepakatan, Indonesia diwajibkan membayar 20 persen dari total biaya pengembangan dan penelitian. Indonesia nantinya juga akan mendapat 50 jet tempur dari sekitar 150-200 yang diproduksi.

Kerjasama Korea Selatan dan Indonesia dalam menciptakan jet tempur KF-X/IF-X  ini juga tersandung.  Total pengembangan proyek jet tempur Boramae diperkirakan mencapai ratusan miliar dolar AS dan Indonesia baru sekitar 10 juta dolar AS.

Pada tahun 2020 lalu, pembicaraan kerjasama kembali dilanjutkan dan Indonesia dikabarkan siap untuk melanjutkan proyek itu. Namun belum terlalu jelas bagaimana kelanjutannya.

Pada bulan Desember 2020, banyak media Indonesia mengabarkan bahwa Indonesia akan mundur dari kerjasama tersebut.

Pada peluncuran purwarupa KAI KF-21 para awal April, Menhan Indonesia, Bapak Prabowo Subianto, juga turut hadir menyaksikan acara tersebut. Mata dunia menyaksikan dan membicarakan peluncuran purwarupa jet tempur terkini Korsel yang dipamerkan.

Dalam renegosiasi tentang kesepakatan pembiaayaan teknologi militer jet tempur Boramae yang dikabarkan membuat Indonesia keberatan, Indonesia meminta pengurangan pembiayaan dari sebelumnya 20 persen menjadi 15 persen.

Akan tetapi menurut juru bicara Menhan Prabowo yang bernama Dahnil Simanjutak, ia menjelaskan bahwa pengurangan biaya pengembangan jet tempur Boramae itu disepakati Korsel menjadi 18,8 persen saja.

Kemandirian dan melepaskan diri dari ketergantungan

Satu hal yang penting dalam peluncuran purwarupa jet tempur Boramae atau KF-21 pada awal April 2021 adalah masalah ketergantungan Korsel terhadap Amerika Serikat. Sebagai sekutu, Korsel memiliki banyak ketergantungan dengan AS khususnya dalam bidang teknologi persenjataan militer.

Karena itu, dalam peluncuran purwarupa itu, Presiden Korsel mengatakan bahwa era kemandirian dan pertahanan yang independen segera dimulai. 

Indonesia sendiri, meski memiliki sejarah mampu membuat pesawat, tetapi belum memiliki banyak pengalaman dalam memproduksi jet tempurnya. Karena itu kerjasama dengan Korsel dalam membuat jet tempur sendiri sebenarnya menguntungkan.

Namun, biaya yang dibutuhkan dalam penelitian dan pengembangan memang luar biasa mahal dan salah satu sengketa kerjasama itu juga soal pembiayaan.

Paska Perang Dunia Kedua, pasar jet tempur dunia dimonopoli oleh lima negara yakni AS, Uni Soviet/Rusia, Inggris, Prancis, dan Swedia. Tapi kini negara-negara Asia mulai bangkit dengan memproduksi jet tempurnya sendiri sebagai bagian dari pengembangan teknologi militer terkini.

Jepang dan Tiongkok sudah mulai memproduksi jet tempur mereka sendiri. Jepang bahkan sudah memiliki purwarupa jet tempur generasi kelima yang memiliki kemampuan siluman.

India juga sudah memiliki rencana jangka panjang untuk memproduksi jet tempur tercanggihnya sendiri seperti misalnya HAL Tejas dan Tejas-N yang kabarnya sudah mulai diproduksi sejak tahun 2001 lalu.

Mungkin kamu tertarik: 5 Tank Terbaik dan Tercanggih di Dunia

Posting Komentar untuk "KF-21 Boramae, Teknologi Kolaboratif Indonesia-Korea Selatan"