Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Matahari dan Garam: Energi Terbarukan di Maroko

Energi listrik masa depan adalah energi terbarukan yang bersih. Maroko menggunakan matahari dan garam sebagai energi alternatif untuk menghasilkan listriknya.

energi alternatif, teknologi energi terbarukan, teknologi terbaru di bidang energi, contoh energi terbarukan, perkembangan teknologi dalam bidang energi
Ilustrasi. (Pexels.com/Tom Fisk)

Teknologi terus melaju, meski bisa dibilang terlambat. Mengapa? Karena banyak di antara teknologi berdampak buruk bagi lingkungan. Itu disadari ketika kerusakan yang ditimbulkan saat ini di bumi. Salah satu yang dianggap berdampak buruk adalah teknologi energi dari fosil.

Selama ini bahan bakar fosil seperti minyak bumi dan batu bara adalah bahan utama untuk menghasilkan energi, khususnya listrik. Tapi karena emisi karbon dioksida yang dihasilkan dari bahan tersebut membuat bumi terbebani, solusi energi alternatif harus dicari.

Para ilmuwan menyadari hal tersebut. Meskipun terlambat tapi itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Energi alternatif kemudian didesak untuk segera dihasilkan untuk menggantikan energi fosil.

Contoh energi terbarukan yang jadi energi alternatif tersebut adalah sinar matahari yang dapat dipanen tanpa habis. Banyak negara sudah mulai menggunakan energi alternatif itu untuk memberikan suplai energi bersih kepada penduduknya. Salah satunya adalah Maroko.

Energi listrik di Maroko

Maroko terletak di Afrika Utara. Negara ini, tidak seperti negara kawasan berbahasa Arab lain yang kaya minyak. Maroko tidak memiliki banyak minyak dan tidak memiliki batu bara. Karenanya, hampir 90 persen energi yang dibutuhkan negeri ini adalah membeli dari luar, alias impor.

Tahun 2004 lalu, menurut The National Office of Electricity and Drinking Water (ONEE), perusahaan listrik negara tersebut, menjelaskan produksi listrik Maroko berasal dari batu bara (31%), bahan bakar minyak (25%), pembangkit listrik tenaga air (22%), gas alam (10%), angin (10%) dan surya (2%).

Menurut Bank Dunia, minyak, gas dan batu bara, memenuhi 97 persen kebutuhan energi Maroko. Untuk melepaskan diri dari ketergantungan tersebut, Maroko butuh energi alternatif dan teknologi energi terbarukan. Salah satu contoh energi terbarukan yang digunakan itu adalah matahari.

Tenaga surya terkonsentrasi

Energi alternatif yang dipilih oleh Maroko untuk mengurangi ketergantungannya terhadap energi fosil adalah dengan memanen sinar surya dan menggunakan panasnya untuk menggerakkan turbin. Teknologi energi terbarukan ini disebut CSP (Concentrated Solar Power) atau Tenaga Surya Terkonsentrasi.

Proyek ambisius yang dilakukan oleh Maroko telah membuat nama negara tersebut menjadi salah satu negara dengan CSP terbesar di dunia.

Saat ini ada tiga CSP terbesar di dunia yakni fasilitas tenaga surya Ivanpah (AS) yang menghasilkan 392 megawatt, fasilitas tenaga surya Ouarzazate (Maroko) yang menghasilkan 360 megawatt dan fasilitas tenaga surya Dhursar (India) yang menghasilkan 125 megawatt.

Noor Power Station

Proyek CSP di Maroko disebut sebagai Noor Power Station atau Tenaga Surya Nur. Proyek tersebut adalah proyek awal dalam ambisi Maroko yang pada tahun 2030 akan memastikan suplai energi terbarukan miliknya akan lebih besar dibandingkan dengan energi fosil.

Noor Power Station dibangun dalam empat tahap dan proyek energi alternatif itu direncanakan pada tahun 2009 lalu.

Biaya yang dibutuhkan untuk pembangunan tersebut lebih dari 3 miliar dolar AS atau lebih dari Rp43,6 triliun yang didapatkan dari pinjaman Bank Dunia dan lembaga lain. CSP Maroko menjadi contoh energi terbarukan yang akan menyuplai listrik terhadap lebih dari satu juta penduduk negara tersebut.

Baca juga: Denmark dan Korsel Bangun PLTB Raksasa di Laut

Kombinasi matahari dan garam 

Teknologi energi terbarukan Maroko tidak seperti panel surya konvensional yang mengirimkan energi langsung ke jaringan. Noor Power Station menggunakan taman cermin lengkung untuk memantulkan sinar matahari dan dari sinar itu digunakan untuk memanaskan cairan yang jadi uap untuk menggerakkan turbin.

Cermin akan menerima sinar surya dan memantulkannya ke receiver sebagai penerima pantulan panas di atas menara setinggi 243 meter, menara tertinggi di Afrika saat ini.

Cahaya panas sinar surya yang diterima itu selanjutnya dialirkan ke garam cair yang dapat menyimpan panas. Garam yang mencair karena penerima aliran panas, dialirkan ke tangki penyimpanan panas yang terisolasi. 

Ketika pasokan setrum dibutuhkan, garam cair akan bergerak melalui sistem generator uap di mana air dipanaskan untuk menghasilkan uap bertekanan tinggi. Uap tersebut menggerakkan turbin yang menghasilkan listrik. Alat itu akan tetap bekerja meski ada atau tidak ada sinar matahari seperti ketika malam hari.

Proses tersebut mirip proses penghasil listrik konvensional seperti dari gas, batu bara atau pembangkit listrik lain seperti nuklir. Akan tetapi, proses CSP tersebut dijelaskan menggunakan 100 persen energi terbarukan.

Badan Energi Internasional memperkirakan bahwa hingga tahun 2050 mendatang, akan ada 11 persen pembangkit listrik dunia yang berasal dari energi alternatif model CSP. Saat ini Maroko dianggap sebagai garda terdepan dalam teknologi energi terbarukan tersebut. Ini adalah contoh energi terbarukan yang potensial di masa depan.

Gambaran sederhana bagaimana cara kerja CSP (www.teknolemper.com)

Empat tahap pembangunan Noor Power Station

Noor Power Station yang jadi salah satu proyek ambisius Maroko menjadi keputusan yang luar biasa dalam perkembangan teknologi dalam bidang energi. Energi alternatif dari pembangkit listrik surya tersebut dibangun dalam empat tahap.

Empat tahap pembangunan energi alternatif itu secara ringkas dapat dijelaskan berikut ini.

Fase 1 Noor dibangun di lahan seluas 450 hektar. Kapasitas listrik yang dihasilkan adalah 160 megawatt. Pada tahun 2016 lalu, Noor 1 sudah terhubung ke jaringan listrik Maroko.

Fase 2 Noor akan dibangun di lahan seluas 680 hektar. Fase 3 Noor dibangun dengan cara yang berbeda di lahan seluas 550 hektar yang diperkirakan memasok listrik 500 gigawatt per tahun. Fase 4 Noor akan menghasilkan listrik sebanyak 72 megawatt.

Pembangkit listrik dengan teknologi energi terbarukan seperti CSP milik Maroko ini membutuhkan jutaan meter kubik air. Mengapa? Karena air itu digunakan secara teratur untuk membersihkan debu yang melapisi cermin. 

Ekspor listrik Maroko ke Eropa

Perubahan mulai terjadi saat ini di Maroko. Sebagai salah satu negara di Afrika yang menerima banyak paparan sinar matahari, Maroko memiliki keuntungan besar untuk mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya sebagai energi alternatif dan energi terbarukan. Negara ini telah meningkatkan kapasitas produksi listrik dari energi terbarukan seperti PLTB dan PLTS.

Maroko kemudian mulai menjajaki bisnisnya dalam menjual setrumnya ke luar negeri, khususnya ke Eropa. Maroko memiliki jaringan listrik bawah air yang terhubung ke Spanyol sejak tahun 1997 dan mulai beroperasi pada tahun 1998 sepanjang 28 km.

Pada tahun 2016, kerjasama kembali dibuat untuk membangun kabel interkoneksi bawah air antar dua negara sepanjang 31 km. Pada tahun 2019, kabel interkoneksi bawah air kembali dibangun untuk mengirim setrum dari Maroko ke Spanyol yang ditarget akan beroperasi sebelum tahun 2026.

Maroko mengekspor setrumnya ke Spanyol sebesar 20.588 GWh pada tahun 2018 dan mendapatkan sekitar 158 juta dirham atau setara dengan Rp256,9 miliar.  

Pada tahun 2019, ekspor listrik Maroko ke Spanyol, sekitar 1.207 GWh dan meraup uang sebanyak 570 juta dirham atau setara dengan Rp926,8 miliar. Produksi energi alternatif yang dikembangkan Maroko mulai mampu menekan impor listriknya.

Maroko memiliki ambisi seperti negara maju yang ingin pada tahun 2050 nanti, 100 persen energinya disuplai dari teknologi energi terbarukan. Meski saat ini Maroko sudah mulai mengekspor energi, khususnya listrik ke Spanyol, tapi masih banyak mengonsumsi minyak bumi dan batubara.

Mungkin kamu tertarik: Teknologi Cahaya Alami dari Jamur

Posting Komentar untuk "Matahari dan Garam: Energi Terbarukan di Maroko"