Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pandemi dan Pelestarian Keanekaragaman Hayati

Wabah virus corona telah mengejutkan dunia. Wabah ini kemudian membuat manusia semakin menoleh kepada alam. Kesadaran akan keanekaragaman hayati dipikirkan kembali serta dampak kerusakan alam akibat wabah juga jadi perhatian.


alam, pandemi, pandemi covid-19, alam dan pandemi, covid-19, bumi, lingkungan
Ilustrasi (Pexels.com/Ibadah Mimpi)

Sejak wabah virus corona diketahui muncul di Tiongkok pada tahun 2019, virus ini menyebar dengan secepat kilat. Ia segera menjadi wabah, menjadi pandemi yang mematikan. Setahun lebih virus corona menyerang global, pandemi COVID-19 telah menginfeksi ratusan juta orang dan membunuh hampir tiga juta orang hingga awal April 2021 [1].

Virus corona kemudian membuat banyak orang berspekulasi tentang asal-usulnya. Berbagai teori muncul ke publik menjadi informasi yang kian simpang siur. Teknologi internet lewat platform media sosial semakin mempercepat arus informasi yang tidak jelas, ditambah penguncian dan pembatasan sosial yang meningkatkan masyarakat semakin lama menggunakan layanan media sosialnya.

Pada bulan Januari 2021, tim independen WHO dan tim ahli di Tiongkok melakukan penelitian tentang asal-usul virus tersebut. Pada akhir bulan Maret, laporan penelitian itu kemudian dirilis ke publik.

Hasil penelitian itu dipublikasikan dan disebut bahwa penularan virus dari hewan kelelawar ke manusia melalui hewan lain adalah skenario yang paling mungkin tersebarnya COVID-19. Meski laporan penelitian itu tidak memberikan jawaban pada banyak pertanyaan, tetapi memberi pengetahuan baru bagaimana pertama kali virus muncul.

Perusakan ekosistem alam dan penyakit baru

Kita sebagai manusia hanya memiliki satu bumi untuk hidup. Meski seorang technopreneur seperti Elon Musk berusaha mengembangkan teknologi ambisius untuk manusia agar dapat hidup di Mars, tapi bumi adalah tempat di mana sejauh ini diketahui adanya kehidupan.

Kita dan alam, termasuk bumi di dalamnya, adalah sebuah satu-kesatuan yang saling terhubung. Karena itu apa yang terjadi pada alam akan memiliki pengaruh terhadap kehidupan manusia. Perusakan ekosistem alam hingga membuat berkurangnya keanekaragaman hayati, akan memberikan dampak buruk bagi kehidupan manusia.

Rusaknya alam membuat hewan liar menerobos batas yang sebelumnya tidak pernah mereka capai. Hewan liar yang terdesak karena ekosistem mereka rusak, mulai memasuki habitat kehidupan manusia terdalam dan menciptakan ancaman baru seperti misalnya penyakit menular baru yang tidak terdeteksi sebelumnya.

Perjumpaan hewan liar yang tidak memiliki ekosistem dengan manusia dan persentuhan di antara mereka menciptakan persoalan baru, seperti munculnya penyakit menular.

Hewan liar tersebut menyebabkan Emerging Infectious Disease (EID) atau sumber penyakit menular yang baru. Melansir dari Johns Hopkins beberapa jenis penyakit yang muncul karena EID tersebut adalah virus HIV dari hewan simpanse, SARS dari satwa liar karnivora kecil yang diperdagangkan secara internasional, flu babi, flu burung dan virus lain seperti Zika, dan demam dengue [2].

Kondisi wabah yang bergerak cepat dalam menginfeksi, salah satunya adalah SARS-CoV-2, dapat dipahami bukan karena disebabkan oleh hewan tetapi oleh manusia itu sendiri. Wakil Presiden Institut Riset Keberlanjutan Eropa yang bernama Joachim Spangenberg berpendapat bahwa kitalah yang telah menciptakan situasi seperti saat ini, dan bukan hewan liar [3].

Tanggung jawab besar berada di atas pundak kita untuk kembali memperbaiki kondisi. Tidak ada langkah terlambat untuk memulai kebaikan dan setiap niat baik pasti akan selalu memiliki jalan.

(Sumber grafis dari pngdownload.id, diolah sesuai kebutuhan)

 Pandemi COVID-19 meningkatkan kerusakan alam

Virus corona yang menyebar secara cepat membuat tiap negara di dunia menjaga diri. Mereka membuat kebijakan menutup perbatasan, menghentikan jadwal penerbangan dan menghentikan sistem transportasi publik.

Aturan penguncian (lockdown) dan pembatasan sosial menghentikan orang-orang beraktivitas dan membuat kondisi kota yang tadinya ramai, menjadi sunyi seketika. Keramaian kemudian berpindah dari dunia nyata menuju dunia maya atau internet.

Orang-orang membagikan pendapat bahwa selama penguncian dan pembatasan di mana banyak kendaraan bermotor tidak beroperasi, maka langit semakin cerah dan udara semakin segar. Mereka turut "berterimakasih" dengan adanya virus corona karena bumi semakin "sehat" dengan berkurangnya karbon dioksida.

Fakta tersebut banyak diungkapkan dari kota-kota besar di Tiongkok, Amerika Serikat dan kota lainnya. Polusi udara secara global tahun 2020 menurun sekitar 5-10 persen dibandingkan tahun 2019. Di langit Eropa, emisi nitrogen dioksida, gas yang sebagian besar dikeluarkan oleh kendaraan bermotor dan industri, juga dilaporkan menurun [4].

Secara logika, betul memang kalau polusi menurun karena aktivitas bermotor dan industri berhenti seketika saat kebijakan penguncian di terapkan. Namun satu sisi yang jarang ramai diperbincangkan adalah dampak destruktif alam akibat kebijakan penguncian.

Penguncian telah membuat banyak masyarakat tersiksa. Mereka yang hidup di dalam garis kemiskinan harus mencari solusi dan ironisnya, mereka melakukan deforestasi dan perusakan ekosistem alam.

Di Brasil misalnya, perusakan hutan meningkat selama pandemi dan di Kenya, perburuan daging hewan liar juga meningkat karena pariwisata ambruk dan masyarakat kehilangan pendapatan selama pandemi virus corona [5]. Mereka membutuhkan pendapatan untuk menyambung hidup.

Tentu saja kita bisa bercuriga bahwa perusakan ekosistem tidak hanya berdasar kurangnya pendapatan dan dorongan putus asa sebab pandemi melumpuhkan ekonomi. Tapi ada juga dorongan lain yakni keuntungan dan keserakahan yang justru sebenarnya mengancam generasi depan anak-cucu kita semua.

Pandemi COVID-19 adalah tantangan nyata bagi semua orang. Pemerintah yang ingin mencegah persebaran virus corona dengan membuat kebijakan penguncian dan pembatasan sosial tak bisa disalahkan.

Kita perlu melihat arti lebih dalam segala hal, termasuk selama masa pandemi COVID-19.  Kerjasama diperlukan demi membangun kesadaran bersama untuk memberikan edukasi tentang keharmonisan lingkungan.

Seperti misalnya MSIG, perusahaan asuransi umum yang beridir sejak tahun 1975 ini memiliki misi turut serta menjaga masa depan bumi. Perusahaan asuransi yang memiliki kepanjangan Mitsui Sumitomo Insurance Group tersebut, juga memiliki program pelestarian lingkungan.

Ratusan ribu pohon, puluhan ribu bibit dan sekitar 21.300 bayi bakau telah ditanam. Perusahaan juga telah mendidik ratusan guru, mengajak puluhan sekolah bekerjasama dan pendidikan lingkungan dan juga mendokumentasikan spesies hewan seperti burung dan kupu-kupu.

Merawat alam dapat memperbaiki kualitas kehidupan manusia (Unsplash.com/Dmitry Dreyer)

Membayar hutang ekologis

Alam telah menyediakan segalanya bagi manusia. Manusia berhutang banyak kepada alam. Tetapi perilaku destruktif manusia terhadap alam telah menjadi ancaman bagi kehidupan manusia itu sendiri. Pelestarian lingkungan menjadi penting untuk generasi masa depan, agar kesejahteraan tetap hadir untuk anak-cucu karena berkah dari alam.

Kita mestinya menyadari, jika pandemi atau bencana lain seperti longsor dan banjir bukan karena kesalahan alam tapi karena rusaknya ekosistem kita.

Kita telah lama berhutang kepada alam. Pandemi COVID-19 ini mengetuk nalar dan hati kita untuk bertaubat. Alam yang rusak dapat "menggigit" balik manusia dengan cara yang mengerikan. Teknologi yang diciptakan untuk merusak alam, tak dapat secara cepat dan kuat menahan "gigitan" balik dari alam.

Kita harus sadar untuk membayar hutang ekologis, setelah selama berabad-abad telah berhutang kepada alam.

Untuk membayar hutang ekologis kita kepada alam, kita harus memiliki kesadaran pola pikir untuk hidup bersanding dengan alam secara harmonis. Alam bukan hanya sekedar objek tapi alam adalah kecantikan yang harus dirawat dan perlu dipersunting untuk hidup bersama.

Contoh paling sederhana adalah bagaimana cara kita memandang tanaman atau pohon. Harus ditanamkan di dalam benak bahwa manusia tidak akan pernah bisa hidup tanpa adanya tanaman atau pohon. Tapi tanaman dan pohon dapat tetap hidup tanpa ada manusia. Karena itu, kita harus memperlakukan tanaman dan pohon sesuai kebutuhan bukan berdasarkan kerakusan.

Jika kita menjaga alam, menjalin keharmonisan dengannya, maka kita telah berikhtiar untuk membayar hutang ekologis kita. Keanekaragaman hayati yang tetap kaya, dapat membuat kita mencegah pandemi yang mungkin datang di masa depan.

Posting Komentar untuk "Pandemi dan Pelestarian Keanekaragaman Hayati"