Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Satelit Kayu Jepang, Upaya Kurangi Sampah Antariksa

Sampah antariksa sudah sangat memprihatinkan. Jepang bergerak untuk menguranginya. Teknologi antariksa terobosan adalah membuat satelit dari kayu. Teknologi tersebut jadi upaya Jepang mengurangi sampah antariksa.

satelit kayu, satelit kayu jepang, satelit kayu jepang kurangi sampah antariksa, sampah antariksa, teknologi antariksa, sampah luar angkasa, teknologi luar angkasa, satelit alami
(Sumber ilustrasi: Pexels.com, PNG)

Sampah antariksa artinya objek di luar angkasa, di sekitar orbit bumi yang diciptakan oleh manusia dan tidak lagi berfungsi. Sampah antariksa atau sampah luar angkasa saat ini telah jadi masalah yang jadi fokus para ilmuwan.

Sampah antariksa atau sampah luar angkasa ini berasal dari satelit yang sudah mati atau tidak aktif. Sampah antariksa juga berasal dari tabrakan antar satelit yang berupa baut, mur atau puing-puing lain. Ia mengambang selama bertahun-tahun dengan laju kecepatan yang fantastis.

Jumlah sampah antariksa saat ini sangat banyak. Pada tahun 2019 lalu, diperkirakan ada 23.000 puing sampah beterbangan seukuran 10 sentimeter. Selain itu, masih ada sekitar setengah juta puing sampah antariksa lainnya yang ukurannya satu sentimeter.

Sampah antariksa ini berbahaya bagi teknologi satelit di orbit bumi. Kecepatan puing sampah antariksa sekitar 33.888 kmh dan dapat menabrak satelit lain yang aktif sehingga menyebabkan kerusakan fatal.

Pada tahun 2006 lalu diwartakan sepotong kecil sampah antariksa, bahkan diperkirakan berukuran milimeter, menghantam Stasiun Luang Angkasa Internasional (ISS). Hantaman itu menyebabkan kerusakan pada jendela ISS. Untungnya, kaca jendela itu empat lapis dan dapat menahan kerusakan.

Satelit kayu Jepang

Berdasarkan keprihatinan sampah antariksa, Jepang melakukan riset. Mereka berencana akan menggunakan bahan kayu untuk membuat teknologi satelitnya.

Takao Doi, astronaut Jepang sekaligus profesor di Universitas Kyoto mengungkapkan keprihatinan atas bahaya sampah antariksa. Menurutnya, sampah satelit yang menembus atmosfer bumi dan terbakar bakal menghasilkan partikel kecil alumina, mineral berbahaya bagi manusia.

Takao Doi dan kawan-kawannya termotivasi untuk membuat inovasi satelit baru yang berasal dari bahan kayu. Mereka akan mengembangkan model rekayasa satelit, dan kemudian akan merancang model peluncurannya.

Jika proyek Jepang ini sukses, maka Jepang akan memberikan wawasan baru mengenai material kayu di luar angkasa.

Siapa saja yang akan berpartisipasi dalam membuat satelit kayu?

Jepang memang dikabarkan akan membuat satelit berbahan dasar kayu. Namun proyek tersebut adalah proyek kolaboratif. Artinya, satelit kayu tidak akan dibuat oleh lembaga tunggal saja, misalnya oleh Universitas Kyoto sendirian.

Satelit kayu Jepang akan dibuat oleh Universitas Kyoto yang bekerjasama dengan Sumitomo Forestry. Sumitomo Forestry adalah anak perusahaan Sumitomo Group. Perusahaan ini di Jepang menguasai sekitar 40.500 hektar.

Sumitomo Forestry bergerak dalam bisnis penebangan, pengolahan, dan konstruksi rumah menggunakan bahan material kayu.

Sumitomo Forestry telah melakukan penelitian mendalam pada pertumbuhan pohon dan bagaimana caranya jika bahan kayu dari pohon tersebut digunakan untuk satelit di luar angkasa.  

Tujuan utama pembuatan satelit berbahan dasar kayu ini karena jika nantinya satelit kayu terbakar, ia tidak akan melepaskan zat-zat berbahaya ke atmosfer bumi.

Satelit kayu juga tidak akan terlalu berbahaya ketika sampah antariksa satelitnya jatuh ke bumi karena secara logika, satelit akan terbakar habis saat menembus atmosfer.

Baca juga: 5 Fakta Sputnik 2, Roket Pembawa Anjing ke Luar Angkasa

Kapan satelit kayu Jepang diluncurkan?

Rencana pembuatan satelit kayu Jepang untuk mengurangi sampah antariksa tersebut dilakukan beberapa tahun lalu. Saat ini riset perancangan dan pengembangan sedang dilakukan. Mengenai perincian satelitnya, hal itu masih menjadi rahasia.

Namun, ada harapan besar bahwa rencana teknologi satelit kayu Jepang akan selesai pada tahun 2023. Pada tahun tersebut, diharapkan bahwa satelit kayu Jepang dapat diluncurkan ke antariksa.

Memang pembuatan satelit kayu tidak akan bisa menyelesaikan masalah sampah antariksa saat ini yang diperkirakan, ada 8.000 metrik ton per 1 Januari 2020. Akan tetapi satelit kayu memberikan wawasan baru tentang ilmu material.

Keuntungan satelit kayu

Berbagai pertanyaan saat ini masih bermunculan. Ada yang meragukan bagaimana kemampuan kinerja satelit kayu tersebut.

Hal itu karena, satelit kayu mungkin adalah bahan lapis luarnya saja sedangkan mesin di dalamnya seperti sensor atau kamera masih tetap menggunakan bahan konvensional seperti logam alumunium.

Namun keuntungan lapisan luar satelit yang berbahan dasar kayu dinilai gelombang radio elektromagnetik dengan mudah akan menembusnya.

Sensor dan kamera juga akan lebih terlindung karena berada di dalam satelit, bukan di luar satelit seperti rancangan saat ini.

Selain itu, proses pembuatan akan lebih sederhana. Bobot satelit kayu juga akan lebih ringan jika dibandingkan dengan satelit konvensional yang dibuat berdasarkan bahan logam.

Para peneliti membayangkan bahwa satelit kayu Jepang adalah sebuah satelit antariksa kotak berbahan dasar kayu dengan semua teknologi berada di dalam kotak tersebut.

Material kayu di luar angkasa

satelit kayu, satelit kayu jepang, satelit kayu jepang kurangi sampah antariksa, sampah antariksa, teknologi antariksa, sampah luar angkasa, teknologi luar angkasa, satelit alami
Penahan guncangan kayu milik NASA (Wikipedia.org/NASA)

Jepang memang bukan negara pertama yang memikirkan kayu sebagai bagian material di luar angkasa. Namun inovasi yang bakal ditawarkan oleh negara Samurai itu akan menambah wawasan baru tentang perkembangan teknologi antariksa di masa depan.

Sebelumnya, NASA sudah pernah membuat kayu sebagai bahan untuk diterbangkan ke antariksa. NASA menggunakan kayu balsa sebagai pelindung.

Penahan guncangan NASA

Dalam program eksplorasi bulan, NASA pada tahun 1962 meluncurkan wahana satelit antariksa bernama Ranger 3. Satelit itu memiliki tugas untuk mengambil gambar bulan lebih dekat selama 10 menit sebelum akhirnya menabrak bulan itu sendiri.

Salah satu inovasi program tersebut adalah sebuah bola dengan diameter 65 sentimeter berbahan dasar kayu balsa. Bola kayu balsa itu berfungsi sebagai penahan guncangan peralatan canggih yang berada di dalamnya, seperti pengukur seismometer bulan.

Rencananya, bola itu akan terpisah dari pesawat luar angkasa untuk diturunkan di bulan. Namun tiga misi yakni Ranger 3, 4, dan 5 semuanya bernasib buruk.

Satelit kayu WISA

Proyek lain pembuatan satelit dengan material kayu berasal dari WISA WOODSAT. Basis utama perancangnya dari Finlandia. Rencananya lapisan luar satelit akan berasal dari kayu. Satelit tersebut berbentuk kubus kecil dengan ukuran sekitar 10 sentimeter persegi.

WISA WOODSAT berencana akan menerbangkan satelit berlapis kayu pada tahun 2021 ini. Namun tanggal peluncurannya belum terlalu jelas.

Satelit kayu WISA WOODSAT akan menggunakan teknologi komunikasi yang memungkinkan penerima sinyal berdaya rendah dan sederhana menangkapnya. Sinyal yang ditangkap dari WISA WOODSAT akan disiarkan lewat frekuensi radio yang didedikasikan untuk radio amatir.

Berbagai inovasi penjelajahan antariksa memang terus berkembang. Kayu yang menjadi bahan untuk membuat satelit masih jadi tantangan tersendiri. Pengembangan dan penelitian lebih lanjut juga masih diperlukan.

Antariksa, seperti diketahui, adalah kondisi yang ekstrim dan brutal. Jadi sejauh ini bahan dasar kayu memang tidak menjadi rekomendasi sebagai bahan utama pembuatan satelit. Kekuatan dan kekokohan dari kayu meragukan.

Meski begitu, gagasan untuk mengurangi sampah antariksa dengan menggunakan material organik seperti kayu patut untuk diapresiasi. 

Mungkin kamu tertarik: Al-Amal, Misi Pertama Mars dari Arab

Posting Komentar untuk "Satelit Kayu Jepang, Upaya Kurangi Sampah Antariksa"