Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Teknologi untuk Gaya Hidup Minim Sampah Makanan

Sampah makanan jadi salah satu musabab pemanasan global karena hasilkan gas metana. Gaya hidup minim sampah makanan penting untuk dikampanyekan. Teknologi pendamping untuk melancarkan kampanye tersebut juga perlu dipikirkan.


teknologi gaya hidup minim sampah makanan, food waste, sampah makanan, limbah makanan, teknologi limbah makanan
Ilustrasi (Unsplash.com/Roberto Carlos Roman Don)


"Jika nasi tidak dihabiskan, nanti nasinya nangis" adalah nasihat orang tua untuk anak yang tidak mau menghabiskan makanannya. Meski setelah dewasa seseorang merasa "dikibuli" oleh orang tuanya karena ungkapan tersebut dianggap "tidak logis", tapi sebagai nasihat, hal itu penting untuk diingat kembali.

Pada tahun 2016 lalu, Indonesia disebut sebagai negara penyumbang sampah makanan terbesar kedua di dunia setelah Arab Saudi. Orang Indonesia rata-rata menyia-nyiakan makanan hampir 300 kilogram setiap tahunnya.

Melacak perkembangan tersebut, setiap tahun catatan itu sepertinya semakin membaik. Pada tahun 2020, menurut Statista, secara perkapita Indonesia membuang sampah makanan sebanyak 77 kilogram per tahun. Catatan itu menunjukkan perbaikan yang terjadi di Indonesia.

Meski begitu, menyia-nyiakan makanan masih jadi persoalan besar di negeri ini. Banyak kota-kota besar di Indonesia masih menghasilkan sampah makanan yang masuk dalam jenis sampah organik dalam jumlah besar. Jumlah itu lebih besar jika dibandingkan dengan sampah anorganik.

Tiga kota besar di Indonesia yakni Jakarta, Medan dan Surabaya bisa dijadikan patokan. Untuk Jakarta, sebanyak 3.639,8 ton sampah limbah makanan terangkut setiap hari. Di Medan, selisih antara sampah makanan organik dengan sampah anorganik mencapai 560,7 ton, lebih banyak sampah organiknya. Sedangkan di Surabaya, ibukota Jawa Timur itu menghasilkan sampah organik sebesar 905,26 ton dan sebanyak 761,57 ton sampah anorganik.

Bahaya limbah atau sampah makanan

limbah makanan, sampah makanan, gaya hidup minim sampah makanan, dampak limbah makanan, dampak sampah makanan, food waste
Ilustrasi dampak buruk limbah makanan (www.teknolemper.com)

Amat sangat perlu disadari bahwa sampah makanan itu berbahaya. Barangkali seseorang yang tidak menghabiskan nasi goreng ketika jajan, atau tidak menghabiskan burger karena membeli berdasarkan iklan beli dua bonus satu, tidak menyadarinya. Namun fakta bahwa sampah makanan jumlahnya fantastis, perlu disadari bahaya yang ditimbulkan akibat menyia-nyiakan makanan ini.

Sampah makanan memang sampah organik yang bisa membusuk. Tapi dalam jumlah besar, sampah makanan menghasilkan banyak gas metana ketika terurai di tempat pembuangan akhir (TPA). Gas metana itu mengkhawatirkan karena berkemampuan 25 sampai 30 kali lebih berbahaya dari pada karbon dioksida.

Selain itu, menyianyiakan makanan atau food waste berarti menyia-nyiakan air irigasi. Tanaman untuk menghasilkan makanan butuh jutaan liter air untuk menghidupinya. Tapi saat sudah menjadi makanan, justru disia-siakan.

Distribusi bahan makanan dari petani menuju tempat pembuatan makanan, baik itu ke restoran, hotel atau pabrik dan produsen UMKM juga membutuhkan banyak bahan bakar. Rangkaian distribusi ini juga dapat dicatat sebagai kerugian tersendiri ketika makanan yang sudah dibeli konsumen kemudian disia-siakan.

Di sisi lain, bahaya food waste juga menciptakan kesenjangan yang memprihatinkan. Ketika masih banyak orang tidak menyadari bahwa menyia-nyiakan makanan itu berbahaya, Indonesia masih memiliki permasalahan gizi buruk.

Menurut Unicef, Indonesia masih jadi salah satu negara dengan beban kasus stunting dan wasting tertinggi di dunia. Stunting adalah masalah kurang gizi kronis dan wasting adalah istilah untuk menggambarkan permasalah gizi dan nutrisi kurang terpenuhi pada anak.

Teknologi untuk kampanye gaya hidup minim sampah makanan

Kesadaran akan bahaya sampah makanan dan bagaimana "mubazirnya" makanan yang dibuang, perlu ditanamkan sejak kecil, termasuk siswa-siswi dari SD hingga SMA. Kampanye kesadaran ini sangat diharapkan dapat membentuk pola pikir sejak dini. Dengan begitu, harapan masa depan yang lebih baik bisa diimpikan.

Program Racing Food oleh Bandung food smart city di sekolah-sekolah patut untuk diapresiasi. Dengan model kampanye berupa permainan untuk bijaksana dalam belanja dan makanan serta minuman yang tersisa itu bahaya, hal ini bagus untuk memberikan kesadaran gaya hidup minim sampah makanan.

Kampanye tatap muka dengan program kesadaran gaya hidup minim sampah makanan secara langsung itu bisa jadi efektif. Apalagi dikemas dalam permainan. Tapi tidak menutup kemungkinan bahwa semakin berkembangnya teknologi, internet bisa jadi solusi lain.

Generasi milenial saat ini sudah akrab dengan dunia digital. Karena itu penetrasi dari sisi dunia digital untuk mengajak gaya hidup minim sampah makanan juga penting untuk dilakukan.

Teknologi yang bisa digunakan untuk pendamping utama dalam mewujudkan gaya hidup minim sampah makanan ini bisa dari beberapa macam. Dua jenis teknologi yang penting adalah platform media sosial dan aplikasi berbagi makanan.

Teknologi media sosial

Kampanye lewat teknologi internet bisa jadi salah satu penetrasi penting ketika 175,4 juta penduduk telah menggunakan internet dan 160 juta di antaranya menggunakan media sosial. Bahkan penggunaan media sosial rata-rata di Indonesia cukup lama yakni 3 jam 26 menit setiap harinya.

Survei terbaru tentang perilaku pengguna media sosial di Indonesia pada Januari 2021 yang dirilis oleh Katadata menunjukkan tiga kelompok utama pengguna memiliki tujuan untuk mencari berita, hiburan dan mengisi waktu luang. Sebanyak 36,5 persen penduduk Indonesia menggunakan sosial media untuk update berita terkini, 35 persen sebagai hiburan dan 34,4 persen mengisi waktu luang.

Kampanye gaya hidup minim sampah makanan dapat dikemas dalam tiga jenis keinginan para pengguna media sosial terbanyak tersebut. Kreatifitas diperlukan guna membuat konten yang menarik para pengguna media sosial sesuai dengan tujuan mereka menggunakan platform.

Membuat konten media sosial selain dari tiga jenis keinginan para pengguna media sosial juga bisa jadi terobosan seperti misalnya dokumenter pendek.

Teknologi aplikasi berbagi makanan dan menjual bahan makanan yang hampir kedaluwarsa

aplikasi berbagi makanan, aplikasi food sharing, aplikasi food distribution, teknologi gaya hidup minim sampah makanan, limbah makanan
Ilustrasi skema teknologi aplikasi untuk mengurangi limbah makanan (www.teknolemper.com)

Salah satu masalah utama food waste selain karena kurangnya kesadaran, adalah karena tidak adanya akses yang lebih luas untuk, katakanlah, berbagi dengan yang lain. Barangkali berbagi makanan saat ini baru sebatas teman dalam lingkaran, tetapi belum menjangkau orang lain di tempat yang lebih luas.

Teknologi aplikasi berbagi makanan ini sudah muncul di Indonesia tetapi belum populer. Namanya adalah GiFood. Aplikasi ini dikabarkan telah hadir pada tahun 2018 lalu tetapi saya coba cari di PlayStore namun tidak menemukannya.

Saya menuju laman resmi GiFood dan menemukan bahwa cara kerjanya adalah seseorang yang memiliki kelebihan makanan, mengabarkan kepada aplikasi dan seorang transporter akan mengantarkan makanan tersebut kepada penerima. Ini semacam gerakan donasi makanan berlebih untuk mereka yang membutuhkan.

Aplikasi lainnya dalam mengupayakan kelebihan makanan agar tidak terbuang percuma adalah Bagii Piring. Aplikasi ini dapat diunduh di PlayStore dan dibuat oleh Baznas DKI Jakarta. Cara kerja aplikasi lebih mirip dengan aplikasi penghubung antara donatur makanan menyalurkan donasi dan mitra rumah makan akan memasak makanan dan mengantarkan makanan kepada mereka yang membutuhkan.

Food Sharing yang jadi program rencana Bandung food smart city dengan bekerjasama Badami Food Rescue mungkin bisa melihat dua aplikasi berbagi makanan tersebut dan lebih menyempurnakannya untuk mewujudkan gaya hidup minim sampah makanan, mengurangi food waste dan meminimalisir kesenjangan sosial.

Teknologi aplikasi lainnya yang bisa menjadi tawaran untuk gaya hidup minim sampah makanan adalah aplikasi yang menghubungkan antara penjual bahan makanan segar dengan konsumen. Cara kerja aplikasi membuat mitra pedagang yang menjual sayur atau bahan makanan, mengunggah produk yang hampir kedaluwarsa, lalu menjualnya dengan harga diskon.

Itu akan memberikan tekanan kebiasaan membuang bahan makanan dari pasar, baik pasar tradisional atau modern. Kolaborasi pemerintah sangat diharapkan dalam pembuatan aplikasi seperti ini agar ada instruksi langsung terhadap pengelola pasar modern dan tradisional untuk bekerjasama.

Pedagang yang menjadi mitra aplikasi memasang iklan dengan informasi realtime dan gambar atau video produk asli yang hampir kedaluwarsa. Konsumen bisa mendapatkan produk tersebut dan memindai lewat aplikasi di kasir atau dengan penjualnya atau lewat aplikasi langsung untuk menerima diskon.

Gaya hidup minim sampah makanan adalah tantangan. Industri makanan dari hulu ke hilir berusaha memproduksi banyak makanan dan iklan terus dipacu untuk mendorong konsumen dalam belanja. Tapi konsumen sering tergoda iklan dan belanja berlebihan sehingga banyak makanan terbuang.

Karenanya, butuh kolaborasi lintas bidang, untuk menanamkan pola pikir gaya hidup minim sampah makanan kepada semua lapisan masyarakat. Teknologi pengembangan aplikasi juga dapat menjadi pendukung untuk mengurangi limbah makanan.

Posting Komentar untuk "Teknologi untuk Gaya Hidup Minim Sampah Makanan"