Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

20 Perusahaan Hasilkan Lebih dari 50% Sampah Plastik Global

Salah satu masalah global saat ini adalah sampah plastik sekali pakai. Sampah plastik tersebut diproduksi oleh ribuan perusahaan di seluruh dunia. Perusahaan memproduksi ratusan juta metrik ton plastik dan sebagian besar menjadi limbah.

plastik sekali pakai, limbah plastik sekali pakai, perusahaan terbesar penghasil limbah plastik sekali pakai
(Unsplash.com/Antoine GIRET)

Sampah plastik sulit terurai setelah digunakan dan akan terus bertahan tanpa bisa membusuk selama lebih dari 10 sampai 400 tahun bahkan lebih.

Itu berarti akan merusak tanah, mencemari air, dan ketika dengan pelan membusukpun menghasilkan mikro-plastik yang dihirup oleh manusia.

Upaya untuk menekan produksi sampah plastik terus dilakukan oleh banyak negara. Meski begitu, sampai saat ini sampah plastik tetap jadi persoalan yang belum menemukan kejelasan jawaban.

Perusahaan dan bank dalam lingkaran limbah plastik global

Minderoo Foundation, sebuah yayasan filantropis yang berbasis di Australia pada bulan Mei tahun 2021 kali ini menerbitkan sebuah laporan yang mengejutkan tentang perusahaan penghasil sampah plastik terbanyak di dunia.

Perusahaan-perusahaan tersebut memproduksi plastik sekali pakai dan sebagian besar produk tersebut menjadi limbah.

Melansir dari laman Sky News, ada Minderoo Foundation menemukan ada 20 perusahaan yang menghasilkan limbah plastik sebanyak 55 persen dari total limbah plastik global.

Itu adalah temuan yang mengejutkan. Jadi, lebih dari separuh sampah plastik di dunia ini, hanya diproduksi dari 20 perusahaan saja.

Dari 20 perusahaan tersebut, sebelas perusahaan berbasis di Asia, empat di Eropa, tiga di Amerika Utara, satu di Amerika Latin, dan satu di Timur Tengah. Selain itu, perusahaan-perusahaan tersebut mendapatkan dana sebagai modal dari bank-bak terbesar di dunia.

Fakta itu juga dapat disimpulkan bahwa bank-bank tersebut belum memiliki niat untuk melakukan kontrol yang serius terhadap sampah plastik global. Sebab faktanya, pada tahun 2019 lalu, lebih dari 130 juta metrik ton plastik sekali pakai hampir semuanya dibakar, dikubur di TPA, atau dibuang langsung ke lingkungan. Hanya sedikit saja yang didaur ulang.

Daftar 20 perusahaan penghasil plastik sekali pakai

Ini adalah penjelasan ringkas mengenai 20 perusahaan yang memproduksi plastik sekali pakai dan menyumbang lebih dari 50 persen sampah global. Daftar ini akan dijelaskan secara runtut dari mulai yang terbanyak memproduksi plastiknya.

(1) Exxon Mobile yang memproduksi plastik sebanyak 5,9 persen, (2) Dow sebanyak 5,6 persen, (3) Sinopec sebanyak 5,3 persen, (4) Indorama Ventures sebanyak 4,6 persen, (5) Saudi Aramco sebanyak 5,3 persen.

Setelah itu, posisi selanjutnya adalah (6) PetroChina 4 persen, (7) LyondellBasell 3,9 persen, (8) Reliance Industries 3,1 persen (9) Braskem 3 persen (10) Alpek SA de CV 2,3 persen.

Angka-angka presentase itu mungkin terlihat kecil, tapi sebenarnya jumlah produksinya mencapai jutaan metrik ton plastik.

Perusahaan selanjutnya yang berkontribusi menghasilkan plastik sekali pakai adalah (11) Borealis 2,2 persen, (12) Lotte Chemical 2,1 persen, (13) Ineos 2 persen, (14) Total 1,9 persen, (15) Jiangsu Hailun Petrochemical 1,6 persen, (16) Far Eastern New Century 1,6 persen, (17) Formosa Plastics Corporation 1,6 persen (18) China Energy Investment Group 1,5 persen (19) PTT 1,5 persen dan terakhir China Resources 1,3 persen.

Perusahaan minyak atau petrokimia mengalihkan bisnis

Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Minderoo Foundation itu berkembang tidak lagi fokus pada dampak sampah plastik, akan tetapi rantai pasokan. Itu berarti mereka dapat melacak bagaimana dan perusahaan apa yang menggunakan bahan dasar fosil untuk diproduksi menjadi plastik sekali pakai.

Dari penelitian itu, beberapa perusahaan petrokimia akhirnya diketahui, bahwa selain mereka menambang energi fosil, mereka juga mengalihkan hasil tambang itu bukan sebagai bahan bakar tapi menjadi produk plastik dari bahan polimer murni.

Pengalihan produk tersebut diperkirakan karena ada tekanan kuat global untuk menggunakan energi terbarukan seperti energi surya dan energi angin. Namun perusahaan tak habis akal. Mereka belok kanan sedikit dan mengalihkan produksi bahan bakar fosil ke produk plastik sekali pakai.

Melansir dari The Guardian, dalam laporan penelitian tersebut dikatakan "perusahaan-perusahaan ini adalah sumber dari krisis plastik sekali pakai: produksi polimer 'baru' mereka dari bahan baku minyak, gas, dan batu bara melanggengkan dinamika pengambilan limbah dari ekonomi plastik."

Dalam lima tahun ke depan menurut perkiraan Minderoo Foundation, kapasitas global memproduksi polimer murni untuk plastik sekali pakai dapat tumbuh lebih dari 30 persen. Pada tahun 2050, plastik diperkirakan menyumbang 5-10 persen dari emisi gas rumah kaca.

10 negara terbesar pengguna plastik sekali pakai per kapita

Selain menelisik perusahaan-perusahaan, laporan tersebut juga menggali data penggunaan plastik sekali pakai tiap negara. Ada 10 negara yang dicatat menggunakan plastik sekali pakai terbesar, yakni Australia, Amerika Serikat, Korea Selatan, Inggris, Jepang, Prancis, Arab Saudi, Spanyol, Kanada dan Italia.

Rincian dari penggunaan plastik sekali pakai per kapita tersebut adalah bahwa orang Australia menggunakan 59 kg plastik, Amerika Serikat sebanyak 53 kg, Korea Selatan sebanyak 44 kg, Inggris sebanyak 44 kg, Jepang sebanyak 37 kg, Prancis sebanyak 36 kg, Arab Saudi sebanyak 35 kg, Spanyol sebanyak 34 kg, Kanada sebanyak 34 kg dan Italia sebanyak 23 kg.

Menurut Prof Sam Fankhauser, spesialis ekonomi perubahan iklim di University of Oxford dan London School of Economics, dia melihat "ketergantungan kita pada minyak dan gas tidak hanya memicu perubahan iklim, tetapi sebagai bahan utama yang digunakan dalam produksi plastik sekali pakai yang juga merusak lautan kita," katanya seperti dikutip dari BBC.

Baca ulasan menarik lainnya tentang bagaimana Teknologi Cahaya Alami dari Jamur dan berpeluang untuk menerangi dunia di masa depan.

Posting Komentar untuk "20 Perusahaan Hasilkan Lebih dari 50% Sampah Plastik Global"