Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Shell Kalah Dalam Sidang Kasus Perubahan Iklim Dunia

Salah satu sebab dari krisis iklim di dunia saat ini diduga kuat karena kinerja perusahaan minyak yang hasilkan bahan bakar fosil seperti perusahaan minyak. Royal Dutch Shell sebagai salah satu perusahaan minyak terbesar di dunia, dituntut untuk mengurangi emisi karbon dioksida. Shell kalah dalam persidangan yang dilakukan di Den Haag, Belanda.

perusahaan shell, shell, shell kalah dalam sidang di pengadilan den haag, energi terbarukan, energi fosil
(Pexels.com/Jan-Rune Smenes Reite)

Ada banyak perusahaan minyak di dunia yang memproduksi energi fosil. Mereka dianggap oleh banyak pihak, khususnya para aktivis lingkungan, sebagai salah satu penyebab perubahan dan krisis di muka bumi.

Hal itu karena berdasarkan emisi karbon dioksida yang mereka hasilkan, serta bahan bakar fosil yang mereka produksi, telah berdampak pada perubahan dan krisis iklim di bumi. Mereka menghasilkan banyak polusi.

Krisis iklim adalah berbagai perubahan secara drastis kondisi bumi seperti suhu, curah hujan, pola angin dan berbagai efek lainnya. Fenomena tersebut telah memicu berbagai bencana alam yang berlangsung saat ini.

Salah satu perusahaan minyak yang dianggap termasuk penghasil emisi karbon dioksida atau polusi dan berdampak pada krisis iklim adalah Royal Dutch Shell.

Perusahaan yang biasa dikenal publik secara luas sebagai Shell itu, digugat oleh belasan ribu individu di Belanda dan tujuh lembaga yang menuntut agar perusahaan mengurangi emisi karbon dioksida.

Pada hari Kamis (26/5), Pengadilan Den Haag mengabulkan gugatan tersebut dan akhirnya memutuskan Shell untuk segera mengurangi emisi karbon sesuai dengan yang diperintahkan.

Persidangan ini adalah sebuah tonggak sejarah penting bagaimana sebuah perusahaan dapat digugat dan dipaksa untuk terlibat dalam ambisi penurunan emisi karbon global yang berdampak pada krisis iklim.

Shell dituduh mengancam hak asasi manusia

polusi, shell, perusahaan shell kalah, krisis iklim, perubahan iklim
(Pexels.com/Emre Can)

Isu perubahan dan krisis iklim telah santer terdengar selama satu dekade terakhir. Para pemimpin dunia ditekan untuk dapat membuat kebijakan yang beralih dari energi fosil ke energi terbarukan.

Kesepakatan untuk menurunkan emisi karbon itu telah dibuat dalam traktat Paris Agreement yang memaksa negara-negara maju untuk mencapai nol emisi karbon pada tahun 2050 mendatang.

Meski begitu, kesepakatan tersebut tidak melibatkan korporasi dan hanya melibatkan negara. Upaya untuk menekan korporasi dilakukan oleh belasan ribu individu serta tujuh lembaga aktivis lingkungan di Belanda. Mereka mengajukan gugatan kepada Shell di Pengadilan Den Haag pada tahun 2019.

Para penggugat menuduh Shell mengancam hak asasi manusia. Investasi miliaran dolar AS yang digelontorkan untuk energi fosil dianggap sebagai ancaman serius terhadap manusia, sehingga perusahaan itu dituntut untuk mengurangi emisi karbon.

Mereka, para penggugat itu termasuk di antaranya Greenpeace Belanda, Milieudefensi (Sahabat Bumi), Fossielvrij NL, Waddenvereninging, Both Ends, Jongeren Milieu Actief, ActionAid dan sebanyak 17.379 individu yang menunjuk Milieudefensie sebagai perwakilan mereka.

Donald Pols yang menjabat sebagai direktur Milieudefensie mengatakan bahwa keputusan pengadilan Den Haag adalah kemenangan besar bagi siapa pun yang terkena dampak perubahan iklim.

Melansir dari Reuters, Pols mengatakan "ini bersejarah, ini adalah pertama kalinya pengadilan memutuskan bahwa pencemar utama harus mengurangi emisinya."

Andy Palmen yang menjabat sebagai direktur sementara Greenpeace Belanda mengatakan "Shell tidak dapat terus melanggar hak asasi manusia dan mendahulukan keuntungan dari pada manusia dan planet ini," ujarnya seperti dikutip dari lamar resminya.

Poin penting yang diperintahkan pengadilan kepada Shell

perusahaan shell kalah sidang di den haag, shell, krisis iklim, greenpeace, belanda
(Pexels.com/Jan-Rune Smenes Reite)

Kasus yang diajukan oleh para penggugat kepada Shell telah dimulai sejak tahun 2019 lalu. Butuh proses perjuangan yang lama bagi para aktivis lingkungan untuk mendapatkan kabar baik yang akhirnya datang pada 26 Mei 2021.

Tiga Majelis Hakim pengadilan Den Haag yang bernama Larisa Alwin, IAM Kroft dan M L Harmsen dalam sidang terbuka yang digelar tersebut, akhirnya memutuskan untuk mengabulkan gugatan para penggugat dan pihak Shell sebagai tergugat harus melaksanakan putusan pengadilan.

Beberapa poin penting dari putusan pengadilan Den Haag adalah:

  • Shell diperintahkan untuk memangkas emisi karbon dioksida hingga 45 persen secara absolut pada tahun 2030 dibandingkan dengan level yang dihasilkan pada tahun 2019.
  • Putusan pengadilan yang memerintahkan Shell memangkas emisi karbonnya akan berdampak pada operasi global perusahaan. Meski saat ini berlaku di Belanda, tapi putusan pengadilan Den Haag saat ini bisa menjadi preseden.
  • Shell pada awal tahun ini telah membuat strategi ambisius dengan menargetkan pengurangan emisi karbon setidaknya 6 persen pada 2023, 20 persen pada 2030, 45 persen pada 2035 dan 100 persen pada 2050 dari level tahun 2016. Meski begitu, pengadilan Den Haag mengatakan bahwa kebijakan iklim yang direncanakan Shell "tidak konkret dan penuh dengan persyaratan, itu tidak cukup."
  • Pengadilan Den Haag memerintahkan bawah putusan dapat diberlakukan untuk sementara, yang itu berarti putusan akan segera berlaku meski salah satu pihak mengajukan banding.
Shell yang melihat hasil buruk di Pengadilan Den Haag, merasa tidak puas atas putusan pengadilan. Menurut BBC, juru bicara perusahaan Shell mengatakan berharap "untuk mengajukan banding terhadap putusan pengadilan yang mengecewakan ini."

Bagaimana dengan perusahaan minyak lain seperti Exxon dan Chevron?

perusahaan minyak exxon, polusi, krisis iklim, pencemaran lingkungan
(Unsplash.com/Raymond Kotewicz)

Selain Shell, ada beberapa perusahaan minyak lain di dunia yang memiliki kapasitas bisnis multinasional yang besar. Dua di antaranya dari Amerika Serikat yakni Exxon dan Chevron. Beberapa tahun terakhir, dua perusahaan ini dianggap mengabaikan tuntutan pengurangan emisi karbon yang mereka hasilkan.

Namun pada tahun 2021 ini, tekanan kepada Exxon dan Chevron untuk mengurangi emisi karbon dioksida yang menyebabkan polusi secara global semakin kuat.

Para pemegang saham dan investor yang ada di dua perusahaan tersebut dikabarkan melakukan pembangkangan dan menuntut perusahaan untuk bersedia mengurangi emisi karbon dioksida yang dihasilkan.

Melansir dari laman The Guardian, Exxon didesak oleh dewan perusahaan untuk mendorong penerapan strategi energi hijau yang ramah lingkungan.

Sedangkan Chevron mendapatkan pemberontakan dari pemegang saham karena sebanyak 61 persen mendukung proposal aktivis Follow This yang meminta perusahaan untuk mengurangi emisi karbonnya.

Pendiri lembaga aktivis lingkungan Follow This yang bernama Mark van Baal mengatakan pemberontakan pemegang saham di dua perusahaan minyak raksasa Amerika Serikat itu menandai "pergeseran paradigma" investor dan "kemenangan dalam perang melawan perubahan iklim."

Tekanan pada raksasa perusahaan minyak dunia untuk mengurangi emisi karbon adalah perjuangan yang luar biasa. Perjuangan itu tidak bisa dilakukan secara sim salabim dan butuh waktu panjang.

Perusahaan minyak dunia, dalam penyelidikan yang terbaru juga dianggap berperan penting menghasilkan limbah plastik sekali pakai. 

Mereka termasuk dari 20 perusahaan yang menghasilkan limbah plastik lebih dari 50 persen secara global. Simak ulasannya di artikel 20 Perusahaan Hasilkan Lebih dari 50% Sampah Plastik Global

Posting Komentar untuk "Shell Kalah Dalam Sidang Kasus Perubahan Iklim Dunia"