Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sunderlal Bahuguna: Lelaki yang Memeluk Pohon

Dia meninggal pada 21 Mei 2021 di usia 94 tahun. Namanya Sunderlal Bahuguna. Lelaki itu adalah orang yang mengajari bagaimana cara memeluk pohon. Ya, memeluk pohon dalam arti harfiah. Dia aktivis lingkungan India yang mengajarkan bagaimana cara mencintai lingkungan dengan memeluk pohon.

gerakan memeluk pohon, gerakan mahatma gandhi, prinsin nirkekerasan
Ilustrasi (Pexels.com)

Mencintai lingkungan itu tak pernah mudah. Hidup di dunia yang didesak oleh industri, istilah mencintai lingkungan sering hanya sebatas slogan yang diajarkan sekolah dan didoktrinkan pemerintah tapi aksinya berada pada titik entah.

Kita sebenarnya mesti sadar bahwa lingkungan adalah satu-satunya tempat bagaimana peradaban manusia tercipta dan itu berarti kita harus memperlakukannya dengan baik. Lebih lagi bisa mencintainya.

Tapi sejauh mana kita harus sadar mencintai lingkungan, kita sampai pada titik kebingungan. Benarkah selama ini kita hidup tanpa mencintai lingkungan? Benarkah kita hidup selama ini merusak lingkungan?

Sunderlal Bahuguna dalam sebuah wawancara mengetuk perasaan orang-orang dengan mengatakan "kita melakukan kekerasan terhadap bumi, terhadap alam. Kita telah menjadi penjagal alam."

Pertemuan dengan perempuan yang mencintai Mahatma Gandhi

Kesadaran Sunderlal Bahuguna untuk mencintai lingkungan tidak datang begitu saja. Kesadaran itu muncul ketika ia bertemu dengan Mirabehn, seorang perempuan putri laksamana Angkatan Laut Inggris yang terpikat dan akhirnya mencintai gerakan Mahatma Gandhi.

Mirabehn bernama asli Madeleine Slade. Jika kalian pernah melihat foto lawas Mahatma Gandhi yang berjejer bersama perempuan kulit putih berhidung mancung berwajah bule, maka itulah dia. Dia mendukung kemerdekaan India, meski Inggris berusaha menindas India.

Mirabehn bekerja dengan Gandhi, mencintainya dan mengajarkan prinsip-prinsip kemanusiaan yang diajarkan Bapak India tersebut.

Karena pertemuan dengan Mirabehn itu, Sunderlal tertular dengan gagasan kemanusiaan dan menjadi aktivis sosial. Selain Mirabehn, istri Sunderlal yang bernama Vimala juga berpengaruh kuat pada gerakan kesadaran sosialnya.

Dalam percakapannya bersama The Better India, Sunderlal memberikan penjelasan "awalnya, saya percaya politik adalah cara untuk membuat perubahan substansial dalam masyarakat. Tapi Vimala menginspirasi saya untuk melihat lebih dalam. Dengan dukungannya dan bimbingan beberapa orang lainnya, saya menyadari bahwa untuk membuat perubahan nyata, saya harus keluar dari gelembung saya, dan hidup di antara massa di pedesaan dan bagian terpencil negara itu. Saya perlu memahami masalah sehari-hari mereka dan apakah kebijakan pemerintah membantu mereka."

Sunderlal Bahuguna kemudian pulang, kembali ke daerah asalnya yang terpencil di utara India, di lereng pegunungan Himalaya.

Gerakan anti-kasta

Sunderlal Bahuguna sudah sejak muda menjadi aktivis, bergabung dengan gerakan untuk memerdekakan India. Ia yang lahir tahun 1927, pada usia 13 tahun sudah ikut berjuang mencari kemerdekaan negaranya. Pada usia 17 tahun, ia dipenjara karena keikutsertaannya itu.

Dari gerakan politik yang ia ikuti dalam perjuangan mencari kemerdekaan India itulah, ia banyak bertemu dengan tokoh politik termasuk Mirabehn. Ketika ia kembali ke daerah asalnya, di Uttarakhand, sebuah wilayah lereng Himalaya, ia bergerak mengamalkan prinsip-prinsip Mahatma Gandhi.

Gerakan pertamanya adalah sebuah gerakan yang ditentang banyak orang, yakni gerakan anti-kasta. Teman, kerabat, kelompok kasta atas, banyak yang mencemooh dan mengkiritik Sunderlal. Meski begitu, ia tetap teguh dan menganggap sistem kasta adalah sebuah bentuk kejahatan.

Sunderlal tetap berjuang dengan prinsip nirkekerasan. Ia tidak membalas dan terus melakukan gerakan berlandaskan welas asih, seperti apa yang diajarkan oleh Mahatma Gandhi.

Gerakan Chipko: Memeluk pohon

sunderlal, chipko, memeluk pohon, mencintai lingkungan, sunderlal bahuguna, mahatma gandhi, gerakan memeluk pohon, gerakan mahatma gandhi, prinsin nirkekerasan
Gerakan memeluk pohon (Chipko) di India. (Wikipedia.org)

India pasca-merdeka mencoba memperbaiki ekonomi dan berhasrat kemajuan. Banyak industri berkembang termasuk memperluas jaringan rel kereta api ke daerah-daerah terpencil. Tapi dengan hasrat industri yang besar, perambahan dan penebangan hutan juga kemudian terjadi.

Perambahan hutan bahkan mencapai pegunungan Himalaya, lingkungan dimana Sunderlal Bahuguna hidup dan beraktivitas. Pada tahun 1970 ketika banjir besar melanda Uttarakhan, Sunderlal sadar bahwa alam rusak karena pohon ditebangi. 

Pada tahun 1974, ia menggaungkan gerakan memeluk pohon, untuk mencintai lingkungan. Gerakan itu bernama Chipko, yang dalam bahsa lokal bermakna "peluk."

Sosialisasi gerakan memeluk pohon membuat para pria muda menyadari pentingnya pohon dan alam. Orang-orang mulai bisa menarik hubungan antara kesuburan tanah, pohon dan banjir. Mereka kemudian ikut memeluk pohon dan bersumpah dengan darah untuk melindunginya.

Gerakan Chipko ini meluas di lereng Himalaya yang melibatkan para perempuan. Para perempuan ikut memeluk pohon serta mengikat rakhis ke kulit pohon.

Rakhis ini adalah sebuah benang merah yang secara simbolis biasa diikatkan di pergelangan tangan seorang saudara selama festival Hindu, Raksha Bandhan.

Orang-orang yang terpikat gerakan Chipko ini memeluk pohon agar tidak ditebang oleh para kontraktor yang akan memanen kayu di lereng-lereng Himalaya. Orang-orang bahkan berjalan diatas salju, mengambil alat-alat penebang pohon agar mereka tidak melakukan penggundulan hutan.

Bagaimana Sunderlal Bahuguna bisa menyadarkan masyarakat?

mencintai alam, mencintai lingkungan, memeluk pohon, gerakan chipko
Sunderlal memeluk pohon (sumber foto)

Ada satu strategi "gila" yang dilakukan oleh Sunderlal. Dia meniru gerakan Mahatma Gandhi, berjalan kaki sejauh ribuan kilometer untuk mengkampanyekan bahaya penggundulan hutan.

Dahulu, Mahatma Gandhi juga pernah berkampanye swasembada kain dan swasembada garam kepada masyarakat India dengan berjalan kaki ribuan kilometer.

Kampanye jalan kaki Sunderlal kepada masyarakat yang dilewatinya selama 120 hari dan menempuh jarak 1.400 km pada tahun 1973. Ia berjalan kaki menempuh 2.800 km pada tahun 1975 di Uttarakhand, dan berjalan kaki menempuh jarak 4.870 km dari Kashmir ke Kohima dari tahun 1981-83 untuk mengkampanyekan kesadaran untuk mencintai lingkungan.

Keras kepala Sunderlal itu telah menginspirasi banyak orang dan ikut berkampanye melindungi hutan-hutan India. Pada tahun 1981, upaya gigih Sunderlal menghasilkan dan pemerintah melarang penebangan hutan selama 15 tahun di Uttarakhan.

Seorang mantan kolega BBC bernama Amit Baruah di akhir tahun 1970-an untuk bertemu Bahuguna di Himalaya. Ia melihat gerakan Chipko itu di diri Sunderlal bukanlah seseorang yang mencari konflik atau kontroversi, tetapi seorang pria yang santai, lembut dan bersuara lembut.

Salah satu pemahaman utama dari gerakan Chipko adalah "Ekologi adalah ekonomi permanen" sehingga alam harus dijaga, dirawat dan dicintai.

Setelah gerakan tersebut, ia masih banyak melakukan gerakan untuk melawan program pemerintah India yang dianggap merusak lingkungan.

Sunderlal mendapatkan banyak penghargaan atas gerakan memeluk pohon dengan prinsip nirkekerasan. Seorang biologi Inggris bernama Richard St Barbe Baker ikut mengkampanyekan gerakan memeluk pohon dan mengenalkan Sunderlal sebagai "Manusia Pohon" ke seluruh dunia. 

Pada tanggal 8 Mei 2021, Sunderlal diketahui terinfeksi virus corona. Ia terserang virus tersebut ketika India dihantam tsunami gelombang kedua COVID-19 yang mengerikan. Ia dirawat di All India Institute of Medical Science (AIIMS) Rishikesh dan kemudian meninggal pada 21 Mei 2021.

Ulasan menarik lainnya tentang Pandemi dan Pelestarian Keanekaragaman Hayati

Posting Komentar untuk "Sunderlal Bahuguna: Lelaki yang Memeluk Pohon"