Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Energi Terbarukan Bioetanol dari Tanaman Pisang

Energi terbarukan itu energi yang berasal dari alam yang prosesnya berkelanjutan. Sumber energi terbarukan bisa dipanen dari sinar matahari, angin, panas bumi, arus air dan proses biologi. Tanaman pisang dengan proses biologi, dapat dijadikan sebagai sumber energi terbarukan, yakni bioetanol.

energi terbarukan dari tanaman pisang, tanaman pisang, pisang
Ilustrasi (Pexels.com/Blue Ox Studio)

Dalam beberapa tahun mendatang, energi fosil atau energi tak terbarukan akan usang dan pasti tersingkir. Saat ini gairah untuk mengurangi energi fosil itu semakin membara.

Alasannya adalah, karena energi fosil atau energi tak terbarukan berdampak buruk pada alam. Energi fosil atau energi tak terbarukan menghasilkan gas emisi karbon dioksida dan memicu krisis iklim yang menimbulkan banyak bencana tak terduga.

Oleh karena itu, upaya untuk mencari sumber energi terbarukan terus dilakukan. Teknologi untuk mendapatkan energi terbarukan itu terus dibangun dan dikembangkan.

Beberapa penelitian dilakukan untuk bisa mendapatkan sumber energi terbarukan yang ramah lingkungan.

Salah satu temuan dari penelitian pencarian sumber energi terbarukan itu adalah, dengan cara proses biologi yang melibatkan pisang sebagai bahan dasar utama pembuatannya.

Proses pencarian sumber energi terbarukan yang melibatkan bahan alami tanaman akan menghasilkan apa yang dinamakan Bioetanol.

Energi terbarukan bioetanol atau bahan bakar nabati

Secara umum, sumber energi terbarukan dari tanaman disebut sumber energi biomassa. Ada beberapa proses yang bisa dilakukan untuk bisa mendapatkannya, salah satunya dengan cara fermentasi.

Dari proses fermentasi, tanaman yang diproses tersebut akan dapat menghasilan bioetanol, yang bisa dijadikan sebagai bahan bakar ramah lingkungan.

Ada tiga bahan utama yang bisa dijadikan sebagai sumber energi terbarukan. Tiga bahan utama itu berasal dari tanaman yang mengandung gula (glucose), pati (starch) dan selulosa (cellulose).

Energi terbarukan berasal dari gula (glucose) bisa didapatkan dari tebu yang bisa dipanen untuk dijadikan bioetanol.

Untuk pati (starch), bisa didapatkan dari tanaman pangan seperti jagung, singkong, sagu, atau pisang. Intinya, banyak mengandung karbohidrat. Tanaman tersebut dapat diproses dengan teknologi untuk bisa menghasilkan bioetanol.

Kemudian untuk selulosa (cellucose), dapat ditemukan dari tanaman dan lapisan kayu. Sekitar sepertiga komposisi tanaman adalah selulosa yang tidak tercerna oleh manusia. Ini adalah senyawa organik yang paling banyak tersedia di alam saat ini.

Pada kesempatan kali ini, studi kasus yang akan dijelaskan adalah menggunakan bahas pati untuk bisa menghasilkan bioetanol. Dan tanaman yang digunakan adalah pisang. Pisang akan diproses untuk bisa didapatkan bioetanolnya, yang bisa jadi sumber energi terbarukan.

Pisang sebagai sumber energi terbarukan

pisang, bioetanol dari pisang, bioetanol
(Unsplash.com/Monika Guzikowska)

Pisang adalah pisang yang sangat populer. Buah ini sekarang tersebar di banyak negara dan menjadi konsumsi yang lumrah. Pasar ekspor-impor pisang menggiurkan karena buah ini disukai oleh banyak orang.

Leluhur semua pisang yang saat ini ada di banyak negara, konon asal-usul pisang disebut berasal dari Asia Tenggara dan Indocina. Dari wilayah inilah, lewat penjelajah, pedagang dan penjajah, bibit pisang ditanam di beberapa benua dan berkembang secara menakjubkan.

Karena menjadi buah yang populer, pisang juga menimbulkan limbah. Limbah pisang tersebut dari mulai bonggol, batang dan kulit buah pisang itu sendiri. Dari limbah tersebut, kemudian para peneliti melakukan penelitian untuk bisa memanfaatkannya.

Rupanya, dari tiga bagian pohon pisang yakni bonggol, batang dan kulitnya, limbah tersebut dapat diekstrak menjadi bioetanol, sebagai sumber bahan bakar nabati yang ramah lingkungan.

Bioetanol dari bonggol pisang sebagai energi terbarukan

bioetanol, bonggol pisang, bioetanol dari bonggol pisang

Dengan banyaknya pohon pisang dan limbah yang dihasilkannya, limbah tersebut dapat dijadikan sebagai sumber energi terbarukan alternatif. Di kalangan petani, sejauh ini bonggol pisang sering digunakan sebagai pupuk organik cair.

Tapi rupanya, bonggol pisang juga dapat diproses menjadi bioetanol, yang nantinya dapat digunakan untuk menggantikan bahan bakar fosil.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh I Wayan Warsa, Faudzia Septiyani, Camilla Lisna, telah membuktikan hal tersebut. Mereka berasal dari Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknologi Industri UPN Veteran Jawa Timur.

Laporan penelitian mereka yang dimuat di Jurnal Teknik Kimia, Vol.8, No.1, September 2013 menyebutkan, bahwa bonggol pisang mengandung 48,26 persen pati yang bisa diproses secara hidrolisis dan fermentasi untuk mendapatkan bioetanol.

Tahapan proses yang dilakukan adalah dengan memproses bonggol pisang bersama enzim alfa-amilase dan enzim gluko-amilase. Dengan proses itu, yang disebut proses hidrolisis akan bisa didapatkan filtrat yang nantinya difermentasi.

Proses fermentasi filtrat tersebut menggunakan starter Saccaromyces Cereviseae menggunakan botol fermentator. Setelah menyelesaikan langkah ini, filtrat yang sudah difermentasi didistilasi untuk bisa diambil etanolnya.

Kadar etanol dari bonggol pisang itu mencapai 9,90 persen dan menghasilkan bioetanol dengan konsentrasi 30,59 persen.

Bioetanol dari batang pisang sebagai sumber energi terbarukan

bioetanol dari batang pisang, pisang, batang pisang, bioetanol
(Pexels.com/Kindel Media)

Selain bonggol pisang, batang pisang juga dapat diproses untuk menghasilkan bioetanol yang bisa menjadi sumber energi terbarukan alternatif.

Sejauh ini, batang pisang ada yang menggunakannya sebagai bahan dasar kain yang diambil seratnya. Serat kain pisang ini, menggunakan jenis pisang khusus yakni Musa Abaca dan Musa Basjoo.

Tapi rupanya, batang pisang juga bisa diekstrak untuk mendapatkan bioetanol. Sebuah penelitian dilakukan oleh peneliti Universitas Mulawarman dan laporannya terbit pada tahun 2018 di Jurnal Integrasi Proses.

Judul penelitian tersebut adalah Pemanfaatan Batang Pisang Kepok (Musa paradisiaca L.) sebagai Bioetanol.

Empat peneliti yang bernama Novy Pralisa Putri, Dwi Widia Ningrum, Noviyanti Eka Prahana, Fika Dwi Oktavia1 melakukan percobaan untuk mendapatkan bioetanol dari batang pisang. Jenis batang pisang yang digunakan adalah batang pisang Kepok.

Metode yang digunakan oleh empat peneliti tersebut hampir sama dengan metode yang digunakan sebelumnya yang menggunakan bahan bonggol pisang.

Dalam menggunakan bahan batang pisang, batang tersebut diparut lebih darhulu untuk bisa didapatkan patinya. Setelah itu, proses hidrolisis dan fermentasi diterapkan untuk bisa menghasilkan bioetanol.

Laporan penelitian tersebut menjelaskan bahwa proses mereka lakukan dapat menghasilkan bioetanol dengan kadar etanol mencapai 12,4497 persen.

Bioetanol dari kulit pisang sebagai sumber energi terbarukan

bioetanol dari kulit pisang, bioetanol, kulit pisang, pisang
(Unsplash.com/Sigmund)

Tanaman pisang adalah tanaman yang memberi banyak berkah. Meski begitu, sejauh ini pemanfaatannya masih terbatas pada buah dan daun. Dua bagian tanaman pisang ini banyak dijadikan sebagai komoditas.

Pisang sebagai buah yang populer dulu pernah menimbulkan masalah. Kulitnya, dapat membunuh orang. Ini karena orang membuat kulit pisang sembarangan. Sampai Franklin Roosevelt pernah mengumandangkan perang melawan kulit pisang.

Tapi ditangan peneliti Dyah Tri Retno dan Wasir Nuri, kulit pisang rupanya dapat dimanfaatkan untuk diambil bioetanolnya. Mereka berdua adalah peneliti dari Jurusan Teknik Kimia FTI UPN”Veteran” Yogyakarta.

Dua peneliti itu menulis prosiding dalam seminar yang berdasarkan penelitian dengan judul Pembuatan Bioetanol dari Kulit Pisang. Prosiding itu bertanggal 22 Februari 2011.

Dalam karya akademik tersebut, bahan baku untuk mendapatkan bioetanol berasal dari kulit pisang Kepok. Pisang Kepok memang terkenal memiliki kandungan pati yang lumayan, sehingga pati tersebut dapat diekstrak untuk bisa menghasilkan sumber energi terbarukan bioetanol.

Proses untuk mendapatkan bioetanol dari kulit pisang itu dimulai dari pengumpulan kulit pisangm, disorting kemudian diproses untuk di dapatkan patinya. Selanjutnya, pati tersebut diproses dalam tahapan hidrolisis untuk didapatkan filtratnya.

Setelah itu, tahapan berikutnya adalah proses fermentasi filtrat menggunakan fermentator dan bantuan ragi.

Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa semakin lama waktu fermentasi, maka akan dihasilkan kadar etanol yang semakin tinggi.

Jika semakin banyak ragi yang ditambahkan dalam proses fermentasi, makan kadar etanol yang dihasilkan akan semakin rendah. Secara umum, kulit pisang dapat diproses untuk menghasilkan bioetanol.

Rupanya, bagian-bagian tanaman pisang yang selama ini dipandang sebagai limbah dapat diproses untuk menghasilkan bioethanol, sebagai sumber energi terbarukan alternatif yang ramah lingkungan.

Pernah dengar lelaki yang mencintai pohon dan mengajarkan orang-orang untuk memeluk pohon? Simak informasi menariknya di artikel Sunderlal Bahuguna: Lelaki yang Memeluk Pohon

Posting Komentar untuk "Energi Terbarukan Bioetanol dari Tanaman Pisang"