Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Apa Itu Rudal Balistik Kapal Selam?

Teknologi rudal balistik kapal selam atau submarine-launched ballistic missile (SLBM) adalah rudal yang diluncurkan dari kapal selam. SLBM sampai saat ini masih jarang dimiliki oleh negara-negara di dunia.


rudal balistik kapal selam slbm
Sumber: Unsplash.com/Taylor Peake


Teknologi rudal mulai berkembang sejak Perang Dunia II, ketika Jerman membuat rudal V-2. Dari rudal Jerman itu, rudal lain kemudian semakin dikembangkan, khususnya ketika Perang Dingin antara Soviet melawan Amerika Serikat.

Keunggulan teknologi rudal adalah dari jangkauannya, yang bisa mencapai sasaran dengan jarak ratusan kilometer. Di darat, ada ICBM atau Intercontinental Ballistic Missile yakni rudal antar benua.

Dalam pengembangan lanjutan, teknologi rudal balistik ICBM dapat mencapai sasaran yang jaraknya puluhan ribu kilometer. Kemudian rudal itu mengalami inovasi menjadi SLBM sehingga dapat diluncurkan dari kapal selam.

Tapi mengapa harus dibuat SLBM dan apa keuntungannya?

Baca juga: Iran Luncurkan Drone Terbaru Bernama Gaza

Sejarah teknologi rudal jarak jauh

Sebelum teknologi SLBM ditemukan, rudal jarak jauh yang dapat dikendalikan dimulai oleh pasukan Jerman pada Perang Dunia II. Rudal itu disebut sebagai Vergeltungswaffe 2 atau V-2.

Ilmuwan yang berjasa dalam pengembangan rudal V-2 bernama Wernher von Braun. Nantinya, Wernher von Braun di masa depan akan memiliki andil besar dalam proyek pengembangan teknologi pesawat luar angkasa untuk Amerika Serikat.

Teknologi rudal V-2 memiliki bahan bakar cair, yang awalnya dibuat dengan tujuan sebagai senjata balasan karena Sekutu telah membombardir wilayah Jerman.

Tiga kota Sekutu yang paling utama menjadi target adalah London, Antwerpen dan Liege. Lebih dari 3.000 rudal V-2 yang diluncurkan dan mengakibatkan sekitar 9.000 orang tewas, baik dari sipil atau militer. Sekitar 12.000 pekerja di kamp konsentrasi juga jadi korban karena kerja paksa dalam produksi senjata.

Inovasi V-2 telah dilakukan untuk diletakkan di dalam kapal selam U-Boat. Namun pengujian peluncuran teknologi rudal tersebut, belum selesai ketika Jerman telah kalah.

Kode untuk pengembangan teknologi ini adalah Pr├╝fstand XII. Jika saja proyek itu jadi, maka kapal selam U-Boat Jerman bisa membombardir kota-kota Amerika. Tapi teknologi rudal ini, mengharuskan kapal selam naik ke permukaan terlebih dahulu, kemudian rudal baru diluncurkan.

Baca juga: Bukan Kaleng-kaleng, Ini 10 Kapal Selam Terbesar di Dunia

Kapal Selam Tenaga Nuklir

Beranjak dari teknologi rudal V-2, rudal-rudal jarak jauh kemudian dikembangkan, baik itu oleh Soviet atau Amerika Serikat. Salah satunya adalah rudal jelajah yang disebut submarine-launched cruise missile (SLCM).

Kemudian pengembangan dan peningkatan teknologi kapal selam menjadi bertenaga nuklir, membuat teknologi senjata rudal juga ditingkatkan sehingga dikenal sebagai rudal balistik kapal selam (SLBM).

Meski begitu, ini adalah teknologi yang sangat mahal dan di dunia saat ini, jumlah negara yang memiliki teknologi tersebut kurang dari 10 negara.

Basis utamanya adalah, kecanggihan kapal selam yang dapat membawa dan meluncurkan rudal SLBM, yang bisa dimuati dengan hulu ledak nuklir.

Pendahulu kapal selam untuk melincurkan rudal balistik dimiliki oleh Jepang yang membuat kapal selam I-400. Ini adalah kapal selam terbesar era Perang Dunia II, dan tetap menjadi yang terbesar sebelum akhirnya kapal selam bertenaga nuklir diciptakan pada tahun 1960-an.

Negara yang memiliki kapal selam dengan rudal balistik pertama adalah Soviet dalam Project 611. Kapal selam dalam proyek tersebut adalah kapal selam yang meluncurkan rudal balistik pertama di dunia.

Dalam teknologi kapal selam tenaga nuklir, AS adalah negara pertama dengan kapal selam yang bernama USS Nautilus pada 1952.

Sedangkan Soviet mengikut membuat kapal selam tenaga nuklir petama dengan nama K-3 "Leninsky Komsomol." Dua kapal selam tenaga nuklir dari AS dan Soviet itu adalah kapal selam legendaris.

Baca juga: Tank Tempur Pertama, Sejarah Teknologi Militer dalam Perang

SLBM dari AS dan Soviet

Rudal balistik kapal selam yang dikembangkan dan ditempat di kapal selam yang canggih kini semakin menarik banyak negara untuk mengembangkannya. Hal itu karena, penggunaan rudal balistik di darat, khususnya yang berhulu ledak nuklir, saat ini sangat riskan.

Karena itu, memawa rudal balistik berhulu ledak nuklir dengan kapal selam memiliki keuntungan tidak terlacak. Dengan kemampuan daya jelajah mencapai puluhan ribu kilometer, maka rudal-rudal SLBM adalah senjata yang sangat strategis.

SLBM Amerika Serikat awal adalah Polaris dengan hulu ledak nuklir. Teknologi rudal SLBM Polaris beroperasi mulai tahun 1962. Sepuluh tahun kemudian, Poseidon menggantikan Polaris dan pada tahun 1979, Trident dibuat untuk menambah jenis SLBM hulu ledak nuklir.

Soviet memiliki rudal balistik bernama R-13 yang dibuat sekitar tahun 1955. Jangkauannya sekitar 600 kilometer. SLBM selanjutnya adalah R-21 dengan jangkauan 1.300 kilometer, lalu ada  R-27 ZYB yang memiliki jangkauan 2.400 kilometer.

Dari rudal-rudal itu, banyak yang dibuat ketika era Pedang Dingin dan sudah dinonaktifkan. Kini rudal teknologi rudal SLBM semakin diperbaharui dengan teknologi rudal balistik berhulu ledak nuklir lain yang lebih canggih, dengan kemampuan jangkauan yang juga lebih jauh.

Negara-negara lain seperti Prancis, Korea Utara atau China juga telah memiliki teknologi rudal balistik tersebut, bersaing dengan raksasa AS dan Rusia.

Kelompok seperti Hamas juga punya rudal, hanya saja kemampuannya belum sejauh ICBM atau SLBM. Simak informasinya di Teknologi Roket Hamas yang Digunakan untuk Menghantam Israel

Posting Komentar untuk "Apa Itu Rudal Balistik Kapal Selam?"