Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Teknologi Pabrik Penyerap CO2 Terbesar di Dunia

Namanya Orca. Dalam bahasa Islandia, itu berarti "energi." Pabrik Orca adalah pabrik teknologi penyerap CO2 terbesar di dunia yang mulai beroperasi pada September 2021. Setiap tahun, Orca mampu menyerap 4.000 ton karbon dioksida.

pabrik, karbon, co2, penyerap, teknologi
Sumber: teknolemper.com/Kidung Pamungkas

Kemajuan teknologi industri manusia telah meninggalkan jejak emisi karbon yang berbahaya bagi lingkungan manusia sendiri.

Emisi karbon itu adalah senyawa yang menyebabkan pemanasan global sehingga terjadi perubahan iklim yang merugikan manusia. Emisi karbon ini, bisa Kisanak temukan di asap pabrik, asap kendaraan, sampah plastik serta non-plastik, juga kentut dan tahi sapi.

Ilmuwan telah berpikir bagaimana caranya mengurangi emisi karbon dengan berbagai cara. Salah satunya adalah mengembangkan teknologi penyerap karbon.

Salah satu perusahaan rintisan teknologi penyerap karbon di Swiss yang bernama Climeworks AG, bekerja sama dengan perusahaan penyimpan karbon Islandia yang bernama Carbfix.

Mereka berdua bekerja sama mendirikan pabrik teknologi penyerap karbon dari udara yang bernama Orca dan aktif mulai September 2021. Karbon yang diserap akan dikirim ke dasar bumi dan disimpan di dalamnya.

Emisi CO2 yang Dihasilkan di Dunia

Sejak tahun 1800-an, industri dunia mulai menjadi standar kemajuan bangsa. Seratus tahun kemudian, yakni pada awal tahun 1900-an, efek dari industri itu menghasilkan emisi CO2 dalam jumlah miliaran ton per tahun.

Dalam data yang diril oleh Our World in Data, emisi CO2 yang dihasilkan di dunia terus mengalami peningkatan tiap tahun sampai pada puncaknya tahun 2019, dunia menghasilkan emisi CO2 lebih dari 31 miliar ton.

Emisi CO2 itu akan terus mengalami kenaikan setiap tahun jika negara-negara tidak sepakat untuk beralih ke energi terbarukan yang ramah lingkungan.

Ironisnya, dalam laporan yang mengejutkan tahun 2021, ada 20 perusahaan global yang telah menyumbang lebih dari 50 persen sampah plastik pada tahun 2019. Kisanak bisa mendapatkan informasi tersebut di artikel 20 Perusahaan Hasilkan Lebih dari 50% Sampah Plastik Global.

Untuk mengurangi emisi karbon, perusahaan-perusahaan yang bekerja dengan energi fosil harus beralih ke energi terbarukan yang ramah lingkungan. Pengurangan produksi plastik juga harus dilakukan demi masa depan bumi yang lebih baik.

Teknologi Penyerap Karbon CO2

Kesadaran tentang perubahan iklim dan dampak buruk dari emisi karbon telah diketahui sejak awal tahun 1920-an silam. Namun, saat itu belum ada upaya nyata untuk berubah.

Dalam 30 dekade terakhir, banyak negara-negara yang mulai memikirkan dampak buruk emisi karbon tersebut dan saat ini, ada upaya yang nyata untuk mengendalikannya.

Negara-negara di dunia, khususnya negara maju, telah mengeluarkan janji untuk mencapai nol emisi karbon pada tahun 2050. Selain itu, para ilmuwan di sisi lain juga mengembangkan teknologi penyerap karbon untuk ikut mengatasi masalah.

Salah satu teknologi penyerap karbon itu adalah Orca yang berdiri atas duet maut perusahaan Swiss dan Islandia. Pabrik itu menjadi pabrik terbesar penyerang CO2 di dunia yang kini sudah mulai beroperasi.

Tapi teknologi penyerap karbon seperti Orca adalah teknologi yang baru sedikit dikembangkan. Selain itu, biaya pembangunannya terbilang masih mahal.

Baca juga: Energi Terbarukan Bioetanol dari Tanaman Pisang

Teknologi Pabrik Orca Serap CO2 4.000 ton Per Tahun

Pabrik Orca di Islandia itu, terdiri dari delapan wadah besar mirip yang digunakan dalam industri perkapalan. Pabrik menggunakan teknologi filter dan kipas canggih untuk menyerap dan mengekstrak CO2.

Aktivitas itu menurut pernyataan dari perusahaan, mampu menyerap karbon 4.000 ton per tahun. Itu sama dengan emisi karbon yang dihasilkan oleh 790 mobil.

Meski begitu, jika kita mau membandingkannya, emisi karbon global mencapai 31 miliar ton per tahun. Dan jumlah yang baru mampu diserap oleh Orca hanya 4.000 ton per tahun.

Karena itu, meski ini adalah pabrik penyerap karbon terbesar di dunia, itu belum terlalu signifikan dalam upaya mengurangi emisi CO2 di udara.

Tapi, penting untuk diketahui, bahwa teknologi penyerap karbon tersebut sudah ada dan dapat dikembangkan lebih jauh agar menjadi lebih banyak dan tentu dengan biaya yang lebih murah.

Baca juga: Mengenal Energi Terbarukan dan Contohnya

Bagaimana Pabrik Orca Bekerja Menyerap CO2?

Meski pohon dan tanaman adalah salah satu makhluk alami yang dapat menyerap CO2, tapi jumlah pepohonan dan tanaman tidak akan cukup untuk menyerap kelebihan emisi karbon saat ini.

Oleh sebab itu, teknologi penyerap CO2 seperti pabrik Orca adalah salah satu yang menawarkan solusinya.

Dan pada dasarnya, teknologi penyerap atau penangkap CO2 adalah menjebak gas tersebut di udara. Kemudian, CO2 dipisahkan dari gas lain. Setelah CO2 berhasil dipisahkan, gas tersebut disimpan kemudian diisolasi.

Teknologi yang dikembangkan oleh Carbfix, salah satu perusahaan yang mendirikan pabrik Orca, adalah dengan menangkap CO2 di udara, kemudian mengekstrasinya dengan larutan air berkarbonasi bersifat asam.

Dari proses itu, kemudian CO2 yang sudah diekstrak, diinjeksi ke dalam bumi, jauh ke dalam bumi di tempat struktur bebatuan basal. CO2 yang disimpan jauh ke dalam bumi itu akan termineralisasi secara alami dan menjadi menjadi batuan.

Kabar baiknya, dari data penelitian yang telah dilakukan, 95 persen CO2 yang disuntikkan itu, hanya butuh waktu dua tahun untuk termineralisasi. Itu adalah waktu yang jauh lebih cepat dari perkiraan semula.

Baca juga: Denmark dan Korsel Bangun PLTB Raksasa di Laut

Biaya Pembangunan Orca, Pabrik Penyerap CO2

Pabrik Orca beroperasi dengan tenaga panas bumi. Jadi itu termasuk energi terbarukan yang ramah lingkungan. Biaya pembuatannya, diperkirakan antara 10 juta sampai 15 juta dolar atau sekitar Rp142 miliar sampai Rp214 miliar.

Climeworks, salah satu pendiri pabrik berharap bahwa dalam akhir dekade ini, pabrik tersebut dapat menyerap CO2 sebanyak 500.000 metrik ton. Climeworks dan Carbfix juga sudah berencana untuk membangun pabrik seperti Orca yang besarnya sepuluh kali lipat dalam beberapa tahun lagi.

Teknik yang digunakan oleh Orca adalah teknik menangkap udara secara langsung, lalu memisahkan CO2. Ini terhitung sebagai teknologi yang relatif baru.

Dan biaya kerja menyerap emisi karbon tersebut juga masih terhitung sangat mahal, yakni sekitar 600 dolar (Rp8,5 juta) hingga 800 dolar (Rp11,4 juta) per metrik ton.

Di masa depan, teknologi seperti yang digunakan pabrik Orca itu diharapkan menjadi semakin murah ketika sudah banyak diproduksi dalam skala banyak, sehingga dapat menyerap banyak emisi karbon di udara.

Itulah upaya luar biasa dalam mengatasi masalah iklim dunia. Di Maroko, mereka juga telah mencoba mengatasi energi fosil yang buruk dengan energi yang ramah lingkungan. Mereka menggunakan matahari dan garam untuk menghasilkan listrik.

Kisanak dapat mengetahui rinciannya di artikel Matahari dan Garam: Energi Terbarukan di Maroko 

Posting Komentar untuk "Teknologi Pabrik Penyerap CO2 Terbesar di Dunia"