Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Etanol Jagung Lebih Buruk Dibanding Bensin

Etanol dapat dihasilkan dari banyak tanaman, terutama jagung. Etanol adalah alkohol yang dalam beberapa tahun terakhir dianggap sebagai bahan bakar relatif hijau. Tapi penelitian terbaru membuktikan, etanol dari jagung kemungkinan lebih buruk dibanding bensin murni.

Ilustrasi (Unsplash.com/Shelley Pauls)

Etanol adalah alkohol yang bisa dijadikan sebagai bahan bakar. Dia bisa digunakan untuk industri atau kendaraan. Jagung adalah salah satu tanaman yang bisa menghasilkan etanol tersebut.

Karena etanol jagung dinilai sebagai sumber energi yang relatif hijau, banyak industri pertanian yang kemudian mengembangkan jagung untuk produksi etanol.

Ada beberapa cara yang dilakukan para produsen dalam mengambil etanol dari jagung, salah satunya adalah dengan fermentasi.

Departemen Pertanian AS (USDA) pernah melakukan penelitian yang menyebutkan bahwa etanol itu relatif hijau. Jadi kemudian etanol jagung banyak dicampur secara besar-besaran bersama dengan bensin.

Campuran etanol dan bensin tersebut kemudian dijual dipoma-pompa bensin di AS. Tapi baru-baru ini, studi yang diterbitkan Proceedings of the National Academy of Sciences bertentangan dengan temuan USDA.

Studi yang dipimpin oleh University of Wisconsin–Madison itu menyebutkan, proses pertanian, perawatan sampai pemrosesan jagung menjadi etanol telah menghasilkan emisi karbon yang lebih tinggi dibanding bensin biasa.

Peluang Jagung sebagai Sumber Energi Hijau

Ilustrasi (Unsplash.com/James Baltz)

Sejak ramai dibicarakan bahwa etanol dari jagung termasuk sumber energi yang relatif hijau, terjadi peningkatan harga jagung di Amerika Serikat. Bahkan kenaikan harga itu mencapai 30 persen, menurut Tree Hugger.

Kenaikan harga itu telah memicu perluasan tanaman jagung. Para peneliti yang menerbitkan laporannya di Proceedings of the National Academy of Sciences menyebut budidaya jagung telah meluas sebesar 8,7 persen.

Meluasnya lahan budidaya jagung telah memicu peningkatan penggunaan pupuk kimia sebesar 3 hingga 8 persen, Sedangkan pasokan air menjadi berkurang karena limpasan bahan kimia dan "menyebabkan emisi perubahan penggunaan lahan domestik."

Ini telah membuat intensitas karbon etanol jagung yang diproduksi kemungkinan memiliki emisi karbon sekitar 24 persen lebih tinggi dari bensin biasa.

Dari anggapan bahwa etanol jagung adalah sumber energi yang relatif hijau itu, terjadi perluasan budidaya tanaman jagung. Langkah pengolahan tanah itu memicu melepaskan karbon yang tersimpan di tanah. Kegiatan pertanian lain seperti pemberian pupuk nitrogen juga menghasilkan emisi karbon.

Pada tahun 2019, USDA menyebut intensitas karbon etanol 39 persen lebih rendah dari pada bensin. Setelah ada penelitian yang terbaru, USDA sampai saat ini belum memberikan komentarnya.

Etanol Jagung Tidak Ramah Iklim

Ilustrasi (Unsplash.com/Taylor Siebert)

Saat ini ribuan ilmuwan telah menyerukan kepada para pemimpin dunia untuk mencegah pemanasan global sehingga tidak terjadi krisis iklim.

Amerika Serikat adalah negara utama yang termasuk didorong untuk beralih ke energi hijau karena banyak menghasilkan emisi karbon.

Banyak upaya yang telah dilakukan seperti mencari bahan bakar pengganti fosil yakni biofuel yang dapat dipanen dari tanaman seperti jagung. Dan AS sendiri adalah salah satu negara penghasil jagung utama di dunia.

AS telah memproduksi jagung sejak tahun 1930-an. Produksi itu terus meningkat karena sumber daya ilmiah dicurahkan untuk meningkatkan hasil produktivitas tanaman.

Pada akhir tahun 1990-an, teknologi canggih mulai digunakan untuk mengubah susunan genetik dengan lebih tepat yang dapat membuat hasil panen melambung lebih tinggi.

Tapi kemudian ketika jagung-jagung diproduksi menjadi etanol sedangkan semua proses pertaniannya menggunakan bahan bakar fosil dan pupuk kimia, etanol yang disebut energi hijau itu menjadi lebih buruk dari bensin.

"Ini pada dasarnya menegaskan kembali apa yang dicurigai banyak orang, bahwa etanol jagung bukanlah bahan bakar yang ramah iklim dan kita perlu mempercepat peralihan ke bahan bakar terbarukan yang lebih baik, serta melakukan peningkatan efisiensi dan elektrifikasi," kata ilmuwan Tyler Lark, penulis utama penelitian tersebut.

Pengingat untuk Produk Biofuel Lain

Ilustrasi (Pixabay.com/Sarangib)

Penelitian yang dipimpin oleh University of Wisconsin–Madison bisa menjadi perhatian penting untuk produk biofuel lain yang diklaim berasal dari sumber nabati seperti tanaman.

Beberapa negara tertentu di Asia Tenggara mengklaim memiliki tanaman penghasil biofuel untuk membantu mempercepat konversi dari energi fosil ke energi terbarukan. Caranya adalah mencampurkan produk biofuel dengan solar atau bensin.

Tapi tentang proses budidaya tanaman penghasil biofuel itu yang jarang dilihat telah menghabisi lahan yang luas dan menyedot banyak air. Ekspansi dalam pengolahan tanah juga melepaskan karbon, proses pertanian yang menggunakan bahan kimia dan bahan bakar fosil juga menghasilkan emisi.

Posting Komentar untuk "Etanol Jagung Lebih Buruk Dibanding Bensin"