Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sebagian Besar Penyu Lahir Betina Akibat Pemanasan Global

Pemanasan global telah menjadi salah satu masalah utama saat ini untuk semua negara. Dalam penelitian yang terbaru, akibat pemanasan global penyu baru yang lahir 99 persen adalah betina. Ini menimbulkan kekhawatiran bagi ilmuwan.

penyu
Unsplash.com/Daria Gordova

Dampak buruk bagi perkembangan industri yang tidak ramah lingkungan adalah pemanasan global. Kini semua negara khawatir dengan ancaman satu ini. 

Para ilmuwan telah melakukan penelitan di berbagai sektor tentang dampak buruk pemanasan global tersebut. Salah satu hasil penelitian yang terbaru adalah bahwa penyu laut yang lahir dalam empat tahun terakhir ini, 99 persen adalah betina.

Penyebab mengapa telur-telur penyu menetas dan anaknya menjadi betina adalah faktor suhu di pasir pantai yang meningkat. Ini adalah salah satu dampak buruk nyata dari pemanasan global tersebut.

Penelitian dilakukan di pantai Florida, AS

Ilmuwan telah melakukan penelitian dalam waktu empat tahun di pantai Florida, Amerika Serikat. Dalam penelitian itu, mereka mengamati perkembangan penyu laut yang menetas di sepanjang garis pantai wilayah itu.

Menurut The Guardian, terjadi lonjakan bayi penyu berjenis kelamin betina. Ini diakibatkan oleh gelombang panas hebat yang dipicu oleh krisis iklim.

Secara signifikan, gelombang panas dari pemanasan global yang menyebabkan perubahan iklim, telah memanaskan pasir di beberapa pantai. 

Dalam penelitian yang dilakukan National Ocean Service, jika telur penyu menetas di bawah suhu 27 derajat Celcius, maka bayi penyu akan jantan. Tetapi jika menetas di atas suhu 31 derajat Celcius, maka akan menjadi betina.

Ketika temperatur di lokasi pengeraman dalam pasir terus goyah karena iklim normal, maka akan menghasilkan bayu penyu jantan dan betina yang bercampur. Tapi pemanasan global telah mengubah hal itu.

Kini semakin hangat pasir pantai, maka rasio penyu betina yang lahir semakin tinggi karena diakibatkan pemanasan global yang meluas.

"Ketika Bumi mengalami perubahan iklim, peningkatan suhu dapat mengakibatkan kondisi inkubasi yang miring dan bahkan mematikan, yang akan berdampak pada spesies penyu dan reptil lainnya," kata National Ocean Service.

Penyu betina dalam empat tahun terakhir

Selama ilmuwan melakukan penelitian dalam empat tahun terakhir, mereka jarang atau tidak pernah menemukan penyu jantan yang menetas dari dalam pasir pantai.

Ini beriringan dengan gelombang panas yang terjadi di Amerika Serikat dalam empat tahun terakhir yang membuat suhu pasir pantai meningkat. Amerika dan Eropa telah mengalami dampak pemanasan global secara langsung dengan munculnya gelombang panas dan ancaman kebakaran hutan.

Bette Zirkelbach, manajer Rumah Sakit Penyu di Florida Keys mengatakan bahwa para ilmuwan yang mempelajari penyu tidak menemukan penyu jantan dan hanya penyu betina saja yang menetas dari telur-telur yang diamati tersebut.

Dampak buruk dari peristiwa ini adalah bahwa pada akhirnya populasi penyu akan mengalami pengerdilan karena tidak ada penyu jantan yang membuahi penyu betina. Pemanasan global telah memiliki efek yang mengejutkan bagi binatang.

"Selama bertahun-tahun, Anda akan melihat penurunan tajam dalam populasi mereka karena tidak memiliki keragaman genetik. Kita tidak memiliki rasio jantan-betina yang dibutuhkan untuk dapat memiliki sesi pembiakan yang sukses," kata Melissa Rosales Rodriguez, penjaga penyu di Rumah Sakit Penyu.

Dominasi kelahiran penyu betina lahir di wilayah lain

Jika laporan terbaru pada tahun 2022 itu setelah dilakukan penelitian di Amerika Serikat, apakah di wilayah lain juga sama seperti itu?

Pada tahun 2019, ilmuwan telah memperingatkan hal ini. Camryn Allen, seorang ilmuwan di National Oceanic and Atmospheric Administration melakukan penelitian di Pulai Raine, Australia.

Di tempat itu, penyu hijau yang besar dan penting di Samudra Pasifik kerap bertelur. Suhu pasir di sana juga telah meningkat dan bayi penyu betina yang lahir lebih dominan. Perbandingannya, setiap 116 bayi penyu betina, hanya ada 1 bayi penyu jantan.

"Saya tidak dapat menyangkalnya: melihat hasil itu membuat saya takut," kata Allen dikutip dari National Geographic.

Penelitian lain yang telah dilakukan di Karibia Belanda menemukan bahwa jika kita menyediakan pantai bersarang penyu dengan naungan daun palem, itu dapat mendinginkan pasir.

Dengan cara itu, manusia dapat membantu mengubah rasio bayi penyu jantan dan betina secara signifikan. Setidaknya dengan cara sederhana itu, dampak buruk pemanasan global terhadap penyu dapat berkurang.

Penyu adalah salah satu makluk purba yang telah ada sejak ratusan juta tahun lalu. Penyu bahkan sanggup bertahan hidup lebih dari 100 tahun.

Kemungkinan, penyu tidak akan punah begitu saja dengan kondisi saat ini dan mereka melakukan penyesuaian dengan kebiasaan baru untuk tetap bertahan hidup.

Posting Komentar untuk "Sebagian Besar Penyu Lahir Betina Akibat Pemanasan Global"