Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah Sukses Inovasi Teknologi JAXA, Badan Antariksa Jepang

Jepang adalah negara dengan inovasi teknologi jempolan. Negara itu memiliki badan antariksa bernama Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA). Usianya terbilang muda, tapi rekam jejak pengembangan inovasi teknologinya telah membentang lama.

inovasi teknologi antariksa jepang
(Twitter.com/JAXA)

Sebagai salah satu negara maju, Jepang juga memiliki ambisi melakukan eksplorasi luar angkasa seperti negara lain. Penelitian dan pengembangan serta inovasi teknologi tersebut telah berlangsung lama.

Jepang secara resmi membentuk organisasi untuk melakukan eksplorasi antariksa pada tahun 2003 bernama Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA).

Organisasi ini merupakan gabungan dari tiga organisasi antariksa pemerintah yang dijadikan menjadi satu. JAXA kemudian memiliki tanggung jawab atas semua aktivitas antariksa sipil di Jepang.

Berikut ini adalah kisah inovasi JAXA, organisasi utama penelitian, pengembangan dan inovasi teknologi Jepang di bidang ekplorasi antariksa.

Tiga organisasi antariksa Jepang

Jauh sebelum JAXA lahir, Jepang telah membentuk lembaga antariksa yang melakukan penelitian dan pengembangan inovasi teknologi antariksa.

Tiga lembaga tersebut adalah Institute of Space and Astronautical Science (ISAS) dan National Aerospace Laboratory of Japan (NAL). Dua lembaga ini dibentuk pada tahun 1955 silam.

Sedangkan yang ketiga adalah National Space Development Agency of Japan (NASDA). Lembaga ini dibentuk pada tahun 1969.

Ketiga lembaga memiliki fokus berbeda. ISAS fokus pada misi luar angkasa teknologi robot. Ini termasuk peluncuran roket sub-orbital pada tahun 1955. Pada 1970, Jepang meluncurkan satelit pertama bernama Ohsumi juga lewat ISAS.

Lalu NAL bekerja pada roket, pesawat terbang, transportasi kedirgantaraan dan inovasi teknologi terkait. Sedangkan NASDA fokus pada pekerjaan di satelit dan kendaraan peluncuran. NASDA termasuk pusat program astronaut awal negara Samurai.

JAXA lahir

Dari tiga lembaga yang bekerja khusus di sektor antariksa tersebut, pemerintah Jepang kemudian memutuskan untuk menggabungkan ketiganya. Maka pada 2003, JAXA atau Japan Aerospace Exploration Agency lahir.

Tujuan pembentukan JAXA adalah menjadi lembaga administrasi independen dan dapat melakukan semua kegiatan di bidang kedirgantaraan sebagai satu organisasi, dari mulai penelitian, pengembangan dasar hingga pemanfaatan teknologi tersebut.

Jadi semua teknologi dari JAXA yang saat ini dikembangkan, awalnya adalah teknologi yang telah diteliti dan dikembangkan oleh tiga lembaga antariksa sebelumnya.

Teknologi satelit pertama Jepang

Buah dari kerja keras penelitian dan pengembangan teknologi antariksa Jepang berpijak pada 11 Februari 1970. Pada tanggal tersebut, badan antariksa Jepang meluncurkan satelit pertama bernama Ohsumi-1 ke orbit.

Ini membuat Jepang mengukirkan diri dalam sejarah sebagai negara keempat yang meluncurkan satelit dengan roket luar angkasa. Uni Soviet adalah negara pertama, kemudian diikuti AS dan Prancis. Usai Jepang, China meluncurkan satelit pertamanya bernama Mao-1 dengan roket Long March.

Teknologi satelit Ohsumi-1 Jepang kembali memasuki atmosfer Bumi dan menghilang pada tanggal 2 Agustus 2003. Itu berarti satelit tersebut melayang di antariksa selama 33 tahun. Ohsumi diperkirakan jatuh di bagian Afrika Utara, di daerah gurun antara perbatasan Mesir dan Libya.

Misi teknologi inovasi Hayabusa

Sebelum melahirkan banyak teknologi inovasi di bidang antariksa, Jepang bekerja sama dengan lembaga lain misalnya seperti NASA. Tapi Jepang juga memiliki misi pengembangan teknologi inovasi sendiri, berdasarkan pengalaman tersebut.

Hayabusa adalah salah satu misi teknologi robot Jepang. Hayabusa meluncur pada 2003 dan tiba di sebuah asteroid pada September 2005. Misi ini mengerahkan kendaraan pendarat bernama MINERVA.

MINERVA ini memiliki ambisi yang sangat fenomenal. Tujuan utamanya adalah mampu melompat dari satu asteroid ke asteroid lain. Sayangnya misi itu tidak berhasil.

Namun teknologi Hayabusa sendiri sukses mengambil material asteroid dan kembali ke Bumi dengan selamat pada 2010. Beberapa kali mengalami kegagalan saat perjalanan pulang.

JAXA kembali meluncurkan misi lanjutan bernama Hayabusa2 pada 2014. Pesawat antariksa berteknologi robotik itu menuju asteroid karbon bernama Ryugu. Dia menyebarkan beberapa robot kecil lain di permukaannya.

Tujuannya adalah mengambil sampel asteroid tersebut dan membawanya pulang ke Bumi untuk diteliti oleh para ilmuwan Jepang.

Jepang menjelajahi Bulan dalam program SELENE/Kaguya

Ambisi Jepang untuk menjelajahi antariksa terus membara. Jepang pernah meluncurkan program SELenological and ENGineering Explorer (SELENE, juga dikenal sebagai Kayuga). Misi ini meluncur pada tahun 2007.

Misi SELENE atau Kaguya tersebut adalah untuk mempelajari komposisi unsur dan mineralogi bulan, geografinya, struktur permukaan dan bawah permukaan, sisa medan magnet serta medan gravitasinya.

Misi ini menjadi misi bulan terbesar sejak program Apollo. Ada banyak negara yang menunggu hasil dari misi tersebut.

Misi terdiri dari Pengorbit utama dan dua satelit kecil bernama OKINA dan OUNA. Pengorbit melayang pada ketinggian sekitar 100 kilometer dari bulan. Sedangkan dua satelit lain memiliki peran lain seperti menyampaikan komunikasi dengan bumi dan mengukur medan gravitasi sekitar Bulan.

Beberapa misi JAXA lain telah diluncurkan oleh Jepang dan membuat negara itu menjadi salah satu negara yang menelurkan teknologi inovasi di antariksa.

Posting Komentar untuk "Kisah Sukses Inovasi Teknologi JAXA, Badan Antariksa Jepang"