Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengenal ESA, Badan Antariksa Eropa

Badan Antariksa Eropa atau European Space Agency (ESA) adalah salah satu badan antariksa terkemuka di dunia. Lembaga ini dimiliki oleh negara-negara Eropa, yang dipelopori oleh Prancis dan Italia.

roket ariane
Roket Ariane milik ESA/Wikipedia


Ada beberapa badan antariksa di dunia ini. Mungkin yang paling kamu kenal adalah NASA, badan antariksa milik Amerika Serikat.

Selain NASA, masih ada beberapa badan antariksa terkemuka lain yakni CSA milik Kanada, JAXA milik Jepang, ISRO milik India, Roscosmos milik Rusia dan juga ESA milik Eropa.

Pada kesempatan kali ini, Teknolemper akan menjelaskan tentang ESA. Badan antariksa Eropa ini salah satu yang paling terkemuka dan banyak mengembangkan teknologi canggih serta temuan luar biasa di luar angkasa.

Akhir Perang Dunia II dan Era Perlombaan Antariksa

Perang Dunia II berakhir pada tahun 1945. Jerman dan negara koalisinya mengalami kekalahan sedangkan Amerika Serikat dan koalisinya mendapatkan kemenangan.

Setelah itu, Amerika Serikat terlibat persaingan ketat dengan Uni Soviet. Kedua negara itu terlibat perlombaan pengembangan roket dan nuklir. Ini termasuk perlombaan penjelajahan antariksa.

Setelah Perang Dunia II ini, banyak ilmuwan Eropa, khususnya Eropa Barat yang merantau ke Amerika Serikat. Mereka mengembangkan ilmu pengetahuan dengan dukungan pemerintahan yang kondusif.

Para ilmuwan tersebut termasuk mengembangkan teknologi luar angkasa, yang membuat Amerika menjadi salah satu negara terkemuka dalam teknologi tersebut.

Para ilmuwan Eropa kemudian menyadari bahwa proyek luar angkasa itu mahal. Proyek nasional saja tidak akan mampu bersaing dengan Amerika dan Soviet.

Beberapa bulan setelah Soviet meluncurkan Sputnik, dunia menjadi gempar. Itu karena Soviet berarti telah menguasai roket peluncur antariksa. Dan roket tersebut, juga berarti bisa dijadikan sebagai senjata lintas benua.

Beberapa bulan setelah itu, ilmuwan Prancis Pierre Auger dan ilmuwan Italia Edoardo Amaldi bertemu. Mereka berdua merekomendasikan membentuk organisasi bersama penelitian antariksa.

Organisasi Awal Pendahulu ESA

Dari rekomendasi tersebut, maka ada beberapa lembaga ilmiah lintas negara Eroopa. Pada tahun 1961, mereka membentuk European Space Research Organisation (ESRO).

Pada tahun 1962, mereka membentuk lembaga antariksa lain yang bernama European Launch Development Organisation (ELDO). 

ESRO bertugas melakukan penelitian ilmiah tentang luar angkasa, sedangkan ELDO bertujuan untuk melakukan pengembangan teknologi pesawat ruang angkasa.

Seiring berjalannya waktu, ESRO juga membentuk beberapa lembaga ilmiah lain tentang penelitian ruang angkasa. Ini seperti ESRIN yang jadi Pusat Pengamatan Bumi, ESOC yang mengoperasikan puluhan satelit, dan ESTEC yang mempelajari sinar kosmik dan sinar-X matahari.

Badan Antariksa Eropa Terbentuk

ESA terbentuk karena berbagai kesulitan seperti kekurangan biaya dan perselisihan kepentingan politik tiap negara anggotanya. Lalu digagaslah usulan untuk membuan organisasi antariksa tunggal.

ELDO dan ESRO kemudian dilebur menjadi ESA pada tahun 1975. Kantor pusatnya berada di Paris, Prancis.

Ada 10 negara anggota pendiri ESA. Mereka adalah Belgia, Jerman, Denmark, Prancis, Inggris, Italia, Belanda, Swedia, Swiss, dan Spanyol. Irlandia kemudian menyusul di akhir tahun.

Misi ilmiah besar pertama ESA adalah meluncurkan satelit Cos-B. Ini merupakan satelit yang memiliki misi memantau sinar gamma di alam semesta. Misi ini menjadi salah satu misi antariksa paling sukses yang pernah ada.

Satelit Cos-B beroperasi lebih dari enam tahun atau empat tahun lebih lama dari yang diperkirakan.

Saat ini ESA memiliki 22 anggota dari negara-negara Eropa. Mereka juga memiliki anggota tidak penuh dari negara di luar Eropa seperti Kanada.

Pengembangan Teknologi Roket Luar Angkasa

Sebagai organisasi antariksa, ESA kemudian mengembangkan roket peluncur ruang angkasa. Ini berfungsi untuk mengantarkan satelit dan peralatan lain ke luar angkasa.

Salah satu roket peluncur luar angkasa yang menjadi andalan ESA adalah Ariane. Roket ini terus berkembang menjadi berbagai jenis. Salah satunya adalah roket Ariane 5 dan kini pengembangan Ariane 6.

Roket luar angkasa Ariane yang terbaru, memiliki tugas utama untuk membawa muatan ekstra berat menuju orbit di luar angkasa.

Situs peluncuran roket luar angkasa utama ESA berada di Guyana, Amerika Latin. Ini merupakan bekas negara jajahan Prancis.

ESA juga menjalin kerja sama lintas organisasi. Mereka membangun hubungan dengan JAXA, ISRO, Roscosmos, dan terutama menjalin hubungan kerja sama dengan NASA.

Saat bekerjasama dengan Roscosmos, salah satu roket peluncur ESA adalah milik badan antariksa Rusia tersebut, yakni Soyuz-2.

Roket Soyuz-2 ini menjadi roket luar angkas untuk membawa muatan sedang. Satelit dan wahana antariksa lain dengan berat sedang, akan diluncurkan dengan roket Roscosmos tersebut.

ESA juga memiliki roket lainnya yang digunakan untuk mengangkut muatan kecil. Roket luar angkasa tersebut adalah Vega. Muatan yang dibawa Vega antara 500 kilogram hingga 1.500 kilogram.

ESA juga sedang menjalankan program Themis. Ini merupakan program pengembangan teknologi untuk menghasilkan roket yang dapat digunakan kembali setelah diluncurkan. Mirip dengan konsep roket Falcon-9 milik SpaceX.

ESA telah meluncurkan berbagai misi ilmiah untuk mengeksplorasi ruang angkasa. ESA juga ikut membangun dan mengembangan Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).

Selain itu, ESA juga secara berkala bekerja sama dengan Amerika Serikat untuk mengirimkan astronautnya menuju ISS.

Kamu tertarik untuk mempelajari ilmu tentang eksplorasi luar angkasa? Rajin-rajinlah belajar agar nanti bisa membanggakan Indonesia, menjadi salah satu dari sedikit negara yang memiliki badan antariksa jempolan di dunia.

Posting Komentar untuk "Mengenal ESA, Badan Antariksa Eropa"